Sabtu, 16 Februari 2019

Renungan: Ketika Tubuhku Digigit Semut Kecil


 Minggu kemarin kami kedatangan tamu tak diundang, satu sih tapi dia bawa pasukan amat banyak ehehe. Tamu-tamu kecil itu berderet-deret bikin merinding lihatnya. Nggak tahu dari mana datangnya dan saya pun tak melihat ada makanan yang jatuh di dekat mereka. Saya harap para semut itu cuma numpang lewat.
Tapi harap tinggal harap. Mereka bergeming. Saya sapu mereka makin menyebar. Saya pel berulang kali mereka hanya menyingkir sebentar lalu kembali lagi.
Yang paling bikin keselnya itu mereka menggigit di mana saja. Entah semuat jenis apa itu, satu gigitannya saja bekasnya langsung sakit & bengkak. Dan bengkaknya itu besar banget. Makin saya beraksi ngusir mereka makin banyak bengkak di badan. Hiks #nangisdipojokan
Alhamdulillah anak-anak aman-aman saja. Mungkin para semut itu hanya menyerang orang yang menyerang mereka. Bijak juga itu para semut ya xixi. Nggak kayak manusia yang tak pandang bulu kalau mau nyerang. #upngelantur.😄
Gigih & brutal juga itu para semut, saya udah mandi, ganti baju, ditutup dari atas hingga ujung kaki, eh mereka tetap bisa naik dan menggigit. Heran. Maka jadilah malam itu saya tak bisa nyenyak tidur akibat rasa sakit campur gatal. Padahal udah dioles macam-macam, minyak zaitun, but-but, kayu putih, balsem panas, dan gel pengurang gatal.
Saya merenung, duh betapa lemahnya manusia, baru digigit mahluk kecil saja sudah KO. Padahal sepuluh ekor semut kalau dijejerin besarnya masih kalah sama jari kelingking manusia.
Besoknya bengkak, sakit. Dan gatal tak berkurang. Sungguh tak nyaman melakukan apa pun. Kebayang enak tuh berendam di air panas seluruh badan.
Pas malam saya tiba-tiba ingat waktu saya atau si Bungsu digigit tawon. Saat itu langsung diolesin madu dan setengah jam kemudian nyeri yang sangat itu berkurang drastis dan tak meninggalkan bengkak. Sengatan tawon jelas lebih menyakitkan dari gigitan semut kaan? Ah, kenapa saya sampai lupa.
Sebenarnya agak ingat tapi saya agak menyepelekan gigitan semut itu. Disengat tawon saya sampai nangis, digigit semut mah masih tahan.😊
Jadilah malam itu saya luluran pakai madu. Tak nyaman sih karena nempel-nempel. Tapi demi kenyamanan & kesehatan saya pun lakukan. Setengah jam kemudian saya bersihkan. (Waktunya pakai standar si Kecil berhenti nangis setelah disengat tawon dulu itu.)
sumber foto: haromain dates


Alhamdulillah malam itu lumayan saya bisa tidur nyenyak. Esoknya masih ada sisa-sisa gatal tapi tak menyiksa seperti kemarin. Mungkin racunnya udah menyebar jadi nggak hilang seketika. Beda saat disengat tawon, begitu disengat langsung dioles madu, jadi racunnya nggak sempet menyebar.
Jadi pesan moral dari cerita ini adalah:
* manusia itu lemah, tak ada alasan buat sombong
* jangan menyepelekan sesuatu, bisa jadi ia jadi hal besar
* jangan lupa selalu sedia madu di rumah.
Kalau bingung cari madu bagus saya kasih rekomendasi madu di gambar ini. Kebetulan suami saya suka nyetok madu Al Shifa ini. Kami suka rasanya, apalagi bila diseduh air hangat subuh-subuh, enak banget. Buat kami nyetok madu di rumah itu penting banget, karena dia punya khasiat buat banyak hal.
Kalau bingung nyarinya ke mana email saya atau cari FP Niaga Bunda Maghfira aja, insya Allah dibantu dengan senang hati J
o     
Bottom of Form


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Menikmati Surabi dengan Aneka Toping Menggiurkan

Setelah sekian lama merencanakan tapi gagal terus, akhirnya Sabtu kemarin kami jadi juga mengunjungi keluarga adik yang tinggal di daerah ...