Jumat, 25 Januari 2019

Mempersiapkan Anak Ditinggalkan Selama Ibadah Umroh



Setiap kaum muslimin baik perempuan mau pun laki-laki sangat mendambakan untuk dapat berangkat ibadan umroh. Demikian pula yang saya alami, saya ngebet sekali ingin berangkat umroh. Bahkan, saya menuliskan resolusi tahun 2018 adalah umroh. Tapi saya sekaligus bingung bagaimana mempersiapkan anak ditinggalkan selama ibadah umroh.
            Alhamdulillah suami sangat mendukung, beliau pun mengatakan tak usah khawatir dengan anak-anak karena ia akan mengurusnya dengan baik. Ya memang saya bersyukur, anak-anak sangat dekat dengan ayahnya dan suami pun sangat telaten pada anak-anak. Saya pun akan tenang meninggalkan mereka. Suami mengizinkan saya berangkat sendiri supaya ada yang menjaga anak-anak kami. Selain itu beliau sering pergi membimbing umroh. Meski akhirnya di luar perkiraan, suami mendapat tugas pelatihan 10 hari justru saat saya umroh.
Meski demikian, banyak hal yang harus saya persiapkan sebelum berangkat berhubungan dengan anak-anak. Apalagi anak kami masih kecil-kecil. si Sulung tak masalah karena tinggal di pesantren. Anak kedua dan ketiga SD, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan. Dan si Bungsu belum tiga tahun, ini pun bukan hal mudah. Lalu, bagaimana mempersiapkan anak ditinggalkan selama ibadah umroh?

1.      Jelaskan dengan Bahasa Anak
gambar: pixabay

 
Jelaskan dengan bahasa anak, berapa lama Bunda akan pergi. Tentu disesuaikan dengan usia mereka. Untuk anak kecil misalnya, Bunda akan pergi selama sepuluh kali makan siang. Untuk anak SD kelas atas cukup bilang Sembilan hari. Tapi untuk adiknya yang kelas bawah mungkin bilangnya dua kali libur sekolah.

Menjelaskan berapa lama Bunda akan pergi sangat penting sekali bagi anak, supaya mereka bisa memperkirakan seberapa lama Bundanya akan pergi. Di samping itu, anak akan tahu Bundanya pergi tidak terlalu lama. Maklumlah, namanya menunggu itu paling membosankan, sebentar pun akan terasa lama. Ini juga menghindari anak akan rewel terus-terusan bertanya kapan Bundanya pulang.

2.      Ajak Anak Saat Manasik

gambar: pixabay


Saat manasik anak akan melihat Bundanya praktek umroh, melihat kabah-kabahan untuk latihan, dan sebagainya. dengan begitu anak akan memiliki sedikit gambaran mengenai apa yang akan dilakukan Bundanya. Apalagi jika anak di sekolahnya sudah pernah mengikuti kegiatan latihan manasik, anak akan semakin memiliki gambaran.

3.      Ajak Anak Melihat Peta
gambar: pixabay


Belilah peta dunia, ajak anak mencari tempat tujuan Bunda dan menancapkan bendera di sana. Kebetulan kami memiliki peta Mekah dan Madinah sebagai bonus sebuah buku. Anak kami suka sekali melihat-lihat peta itu. dengan demikian, mereka mengetahui ke mana bundanya akan pergi.

4.      Tandai Kalender

Berikan anak sebuah kalender kecil dan warnai tanggal selama Bunda pergi. Sehingga mereka mengetahui berapa lama lagi Bundanya akan pulang. Ini pula yang saya lakukan dulu saat suami berangkat ibadah haji dan saya dalam keadaan lemah setelah disesar. Tahun 2007 teknologi belum secanggih sekarang. Belum ada WA atau telegram seperti sekarang, nelpon dan SMS mahal sekali dan susah untuk mengirim foto. Dengan cara mencoret kalender tiap hari saya merasa kepulangan suami dari tanah suci semakin dekat.

5.      Beritahu Anak Tentang Rencana Keberangkatan

Sebelum berangkat, beritahu anak tentang rencara keberangkatan dengan bahasa yang dimengerti mereka. Hal ini penting sekali supaya anak merasa dirinya dihargai. Sebaiknya pemberitahuan ini dilakukan jauh-jauh hari, agar jika anak ngambek atau protes Bunda memiliki banyak waktu untuk memberinya pengertian.

Saya mengajak anak saat membuat passport, divaksin meningitis, serta manasik. Mereka terlihat antusias. Ini momen yang tepat untuk memberitahu betapa banyak orang yang ingin berangkat umroh dan karenanya Bunda bahagia. Sambil tak lupa mengajak anak berdoa agar bisa berangkat umroh sekeluarga.

6.      Libatkan Anak Saat Berkemas

Anak-anak biasanya suka kalau diajak berdiskusi untuk sesuatu yang baru. Ajak anak berdiskusi kira-kira perlengkapan apa saja yang harus Bunda bawa. Mungkin bisa minta anak juga untuk mencari informasi di internet. Minta anak yang sudah besar untuk mencatatnya. Setelah catatan dirasa lengkap ajak anak untuk membantu menyiapkan pernak perniknya.

7.      Persiapkan Kebutuhannya Selama Ditinggal
gambar: pixabay

Kami tidak memiliki ART, saya dan suami bahu membahu mengurus rumah dan anak-anak. Jika saya pergi lama otomatis suami yang akan menghandel semuanya. Demi meringankan bebannya, saya persiapkan apa yang bisa dilakukan sebelum berangkat. Menyetrika semua seragam sekolah anak-anak dan bikin ungkep ayam supaya suami tinggal menggoreng untuk sarapan. Anak-anak sangat menyukai goring ayam dan ia pun awet di kulkas.
Selain hal tersebut di atas, saya juga merasa perlu menghubungi banyak orang sebelum berangkat. Meski ada suami di rumah, tapi kasihan jika kesibukan kerja suami harus ditambah dengan printilan kebutuhan anak. Selain itu, dikhawatirkan kesibukan suami akan membuatnya lupa hal kecil tetapi penting.

ü  Guru-guru anak

Saya menghubungi wali kelas anak-anak, mengatakan saya akan berangkat umroh dan minta doanya. Lalu saya memberitahu jika ada hal penting berkaitan dengan anak yang selama ini menghubungi saja supaya menghubungi nomor suami. Misalnya, PR, ojek langganan terlambat menjemput, pemberitahuan kegiatan sekolah, dan sebagainya.

ü  Jemputan

Anak-anak kami berangkat sekolah ikut mobil ayahnya sekalian berangkat ke kantor sementara pulangnya kami berlangganan ojek. Mang ojek ini pun perlu saya beritahu agar jika ada apa-apa dengan anak langsung menghubungi nomor suami. Termasuk memberitahu ke mana harus mengantar anak-anak selama saya umroh. Karena suami sampai rumah biasanya Maghrib maka anak-anak harus menunggu di rumah saudara.

ü  Catering

Anak-anak kami sekolah fullday, maka setiap hari harus membawa bekal snack dan makan berat. Hari-hari biasa saya yang memasak untuk mereka. Saat umroh saya tak mungkin menambah kerepotan suami, maka kami sepakat untuk memesan catering. Saya kontak orang tua siswa yang memiliki café dan meminta informasi. Alhamdulillah menunya cocok dan bisa memesan beberapa hari saja.

ü  Saudara

Mau tidak mau akhirnya kami menitipkan anak-anak pada saudara karena suami harus ke luar kota pertengahan saya umroh. Kami mengontak saudara masing-masing menjajaki kira-kira siapa yang bisa dititipi anak sekitar lima hari. Kebetulan kakak suami dan adik saya jarak rumahnya ke sekolah sama denga jarak sekolah ke rumah kami. Akhirnya kakak suami yang menawarkan diri untuk menjaga anak-anak kami karena adik saya sibuk mengajar.
Siapa saja yang harus dihubungi sangat tergantung kondisi keluarga masing-masing. Bunda mungkin harus menyelesaikan berbagai tagihan rumah tangga dulu, tetapi saya tidak karena suami yang biasa mengurusnya. Sehingga cara mempersiapkan anak ditinggalkan selama ibadah umroh akhirnya disesuaikan dengan kebiasaan keluarga masing-masing.


umroh, persiapan, anak

30 komentar:

  1. Kebayang ya Teh rempongnya menyiapkan segala sesuatu. Tapi salut akhirnya semua berbuah manis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mba remong banget tapi alhamdulillah berhasil juga :)

      Hapus
  2. Iya, mbak, pengen banget bisa umroh dan haji. Doakan saya ya agar bisa menyusul ke Tanah Suci. Tipsnya oke banget nih, sangat membantu bagi ibu-ibu yang meninggalkan anak-anak di rumah. Soalnya kalau ibu yang pergi, wah kebayang ribetnya suasana rumah nantinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin semoga mba dewi segera dipanggil ke tanah suci. betul, mbak ribet banget apalagi jika anaknya masih kecil seperti saya

      Hapus
  3. Tipsnya lengkap banget Mbak..
    Memang kalau kita sounding jauh-jauh hari anak-anak enggak akan kaget lagi ya ..lebih siap jadinya.
    Terima kasih sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mba Dian ... betul, mereka udah ada persiapan yaa

      Hapus
  4. Alhamdulillah kalau anak diajak dan dilibatkan saat beberes pakaian mau umroh jadi tau dan mengerti ya mak

    BalasHapus
  5. Bener banget bun. Kalau mau ninggalin anak banyak banget ya persiapannya. Bener-bener diajak ngobrol anaknya, terus diksih pemahaman lewat peta, kalender dll biar mereka lebih paham ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Bunda. gpp repot di awal tapi hepi akhirnya semua

      Hapus
  6. MasyaAllah bun jika panggilan Allah datang segalanya dimudahkan yah. InsyaAllah anak-anak pun setelah diberi pengertian seperti diatas pasti mengerti. Semoga ibadah umrahnya lancar yah bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, mba ... jika sudah ada panggilan Allah, hati kita pun ikhlas insya Allah dimudahkan

      Hapus
  7. wah kalo aku enggak tahan bun, hehe. Belum punya anak sih tapi kalo masih kecil2 ku tak kuase meninggalkan. Kalo bisa aku bawa aja, wkwk. Tapi tipsnya oke juga bu, makasih sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin karena saya sudah punya empat yaa hehe ... dulu mah nggak kebayang bisa ninggalin anak kecil buat umroh

      Hapus
  8. Tips nya mantep banget mbak selengkap inih. Meninggalkan anak buat pergi bentar aja mesti disiapin banget ya, apalagi ditinggal beberapa hari.
    Semoga aku juga bisa segera menyusul bisa umroh, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Teh Sinta :) betul, jadi persiapannya harus jauh-jauh hari. amiin semoga Allah mudahkan

      Hapus
  9. Masyaallah, lengkapp bangeet tipsnya, saya juga pernah pake peta, mbak. Unik caranya. Semoga saya juga bisa menjejakkan kaki di tanah suci, aamiin3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mba :) amiin yaa robbal alamiin

      Hapus
  10. Saya udah mulai nyicil di-sounding kalo misalnya Bunda Umroh, ehh, mereka minta ikut. Yaa, semoga ada rezekinya untuk mereka ikut. Btw, strategi ayam ungkepnya, samaan kita, Mbak ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya harus jauh-jauh hari ya biar semua siap.
      amiin semoga semua bisa ikut ya, mba ...
      hehe menu andalan emak-emak

      Hapus
  11. Wah cocok ni buat pasangan berkeluarga yg mau umroh. Simpan artikelnya, makasih bun.

    BalasHapus
  12. Sejak belum punya anak, tugas saya keluar kota sampai memiliki anak terus berlangsung. Jadi anak2 sudah terbiasa saya tinggal & mengetahui tugas saya. Mereka selalu ikut memyiapkan koper untuk keperluan tugas, jd saat saya umroh th 95. Si bungsu baru 1 th & saya tinggal selama 14 hari, alhamdulillah ga masalah. Hanya setiap hari saya menelpon mereka. Klo libur sekolah, anak2 saya bawa dinas keluar kota.

    Alhamdulillah saat berhaji si kk sdh menikah & si Ade msh kuliah di.luar kota. Semua aman terkendali klo kita membiasakan melibatkan anak2 dg kegiatan kita.

    BalasHapus
  13. Ini loh bun yang bikin saya mau pergi umroh mesti mikir dulu. Belum boleh sama suami dan ibu, karena harus ninggalin anak 2 tahun. Mungkin nanti kalo sudah tiga tahun saya ajak saja

    BalasHapus
  14. Saat ibu keluar rumah. Banyak tugas rumah tangga yg harus diselesaikan ya mbak.
    Biar tenang saat keluar rumah.
    Apalagi untuk keluar negeri.

    BalasHapus
  15. tipsnya mantap. Saya umroh walaupub sendirian juga begitu. pamit kepada saudara dan titip pesan ke tetangga dan saudara. memang umroh harus disiapkan betul betul.

    BalasHapus
  16. Kayaknya ribet banget ya mbak tapi memang itulah yang terbaik untuk anak. Ibadah pun lancar karena kebutuhan anak dipersiapkan dengan matang. Terima kasih sudah share

    BalasHapus
  17. Mudah-mudahan niat kami untuk berumroh tahun ini diijabah oleh Allah. Aamiin.
    Terim kasih udah nge-share apa-apa yang harus disiapkan pada anak-anak yang akan ditinggalkan.

    BalasHapus
  18. Ya Allah doakan dan panggil aku dong mbak Dedeh jangan lupa yaaa

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Menikmati Surabi dengan Aneka Toping Menggiurkan

Setelah sekian lama merencanakan tapi gagal terus, akhirnya Sabtu kemarin kami jadi juga mengunjungi keluarga adik yang tinggal di daerah ...