Rabu, 03 Oktober 2018

Pengalaman Diterapi Akupuntur, Lebih Sakit Mana: Jarum Suntik VS Jarum Akupuntur?



 
sumber gambar: wub.bandung.go.id



Saya sebenarnya orang yang amat takut pada jarum suntik. Saking takutnya sampai-sampai balita saya yang menemani ke bidan saat mau di KB suntik berkomentar, “Nda jangan takut, kan ada Aa ….” Kelihatan banget bundanya ketakutan hehe ….
Lalu, bagaimana ceritanya hingga saya jadi akrab dengan jarum akupuntur?
Sebentar, pelan-pelan dulu ceritanya. Saya akan ceritakan dari awal perkenalan dengan jarum akupuntur.
Beberapa tahun yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang tetangga yang terkena struk. Dia tengah diakupuntur oleh seorang terapis. Bisa dibilang semua anggota badannya ada jarum semua. Mulai dari kepala , wajah, tangan, perut, dada, kaki. Punggungnya nanti gentian setelah perut. Bayangkan, bagaimana ngerinya saya melihat jarum-jarum panjang itu berjejer di badan sang tetangga. Satu jarus saja bikin ngeri apalagi puluhan. (Tapi kabar baiknya akhirnya tetangga saya itu sembuh dari struknya).
Tetapi, mau tak mau saya mencoba juga tusukan jarum akupuntur sang terapis. Saat itu terjadi global warming dan tubuh saya tidak kuat hingga selalu timbul bentol besar-besar di badan. Tak ada hasilnya suntikan serta obat dari dokter kulit. Akhirnya saya pun pasrah berkenalan dengan beberapa buah jarum akupuntur. Dalam hati berdoa semoga tak harus lagi berurusan sama jarum-jarum panjang mengerikan itu.
Sekitar lima tahun kemudian kami pindah rumah ke daerah Rancaekek. Di tempat baru inilah saya mulai akrab dengan jarum akupuntur. Karena, banyak teman yang ternyata memiliki keahlian akupuntur. Mulanya, suatu malah suamiku tak dapat tidur akibat dada dan punggungnya sakit (B. Sunda: jejelengakan). Saya antar suami ke rumah teman yang juga terapis. Ternyata, itu akibat angin yang sangat banyak dan lama bersarang di dalam tubuh. Tak heran, sebab meja suami di kantornya tepat di bawah AC. Alhamdulillah, setelah diakupuntur entah berapa puluh jarum sakitnya jauh berkurang.
Saat mengantar suami untuk diterapi ke dua kali, saya merasa penasaran ingin mencoba juga diakupuntur karena saat itu saya pun kurang fit. (bukan penasaran sama tusukannya tapi mupeng sama cepet sembuhnya). Apalagi saat saya tanya sakit atau nggak suami bilang lebih sakit disuntik jarum biasa. (Saya memang lupa lagi rasanya diakupuntur karena baru sekali). Tapi saat itu saya masih ada rasa takut.
Saya bilang sama terapisnya, “Teh, mau diakupuntur tapi ngeri. Coba dulu di tempat yang nggak kelihatan ya, di punggung misalnya.”
Terapisnya hanya tersenyum lalu bertanya, “Kerasa nggak, Teh?”
“Apanya yang kerasa? Memang sudah disuntiknya?” saya heran karena tak merasa apa-apa. Ternyata jarumnya sudah ditusukkan. Barulah setelah digoyang-goyang terasa agak nyetrum.
Makin Akrab dengan Jarum Akupuntur
Suatu  hari seorang teman menawarkan kerjasama untuk menulis sebuat buku dengan deadline satu bulan. Terus terang, ini tema buat saya, tapi tak mau mundur sebelum mencoba akhirnya saya menyanggupi.
Ternyata, menulis tema yang baru dengan DL ketat itu sangat menguras energi. Dua minggu mencurahkan banyak energi untuk menulis, dua minggu pula tubuh saya ambruk. Kepala terasa sangat berat, badan terasa lemas tak terkira, mulut pahit, perut amat sakit, dan dada terasa tak nyaman. Setelah beberapa hari mengonsumsi madu tapi tak kunjung sembuh, akhirnya saya minta suami untuk diakupuntur. Saya memang sangat jarang mengonsumsi obat kimia.
Teman yang juga terapis memberikan banyak nasehat bermanfaat terkait dengan penyakit saya. Setelah diakupuntur Alhamdulillah pusing berkurang, badan memiliki tenaga sedikit, dada dan perut terasa lebih nyaman. Tapi terapis bilang saya harus memaksakan diri mengonsumsi bubur meski mulut terasa pahit. Karena tubuh saya benar-benar membutuhkan nutrisi.
Setelah badan saya terasa lebih kuat, suami mengajak saya konsultasi dan terapi ke rumah sehat langganan keluarganya di daerah Cileunyi.  Alhamdulillah, saya senang sekali karena menuruti ajakan suami. Ternyata, terapisnya luar biasa. Beliau komunikatif sekali, memaparkan kondisi kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam. Tak heran jika pasiennya berdatangan dari luar daerah Bandung. Akhirnya saya memahami mengapa bisa terjadi sakit seperti ini, bagaimana penanganannya, juga makanan apa saja yang dianjurkan serta pantang dimakan. Saat terapis menyuruh diakupuntur saya dengan sukarela melakukannya.
Sejak itu kami berlangganan konsultasi dan terapi dengan beliau. Beliau memang ramah dan tak pelit ilmu, siapa pun yang konsultasi meski hanya via WA selalu dijawabnya. Kalau badan terasa kurang enak maka yang terpikir adalah sudah waktunya akupuntur. Tentu saja bukan kangen sama jarumnya, tapi ingin mendapatkan sehatnya hehe ….
Ada satu hal yang unik saat saya tinggal di Rancaekek ini. Teman-teman bahkan guru ngaji kami itu ahli akupuntur. Nah, kalau pas ngaji ada yang sakit maka tak heran jika kami ngaji sambil terpasang jarum akupuntur. Kadang juga antara peserta pengajian saling tusuk jarum akupuntur hehe …. Bahkan kalau lagi sakit pas jadwal ngaji lebih baik hadir, karena akan mendapat terapi gratis. Benar-benar pengalaman unik tak terlupakan. Pemandangan ini membuat saya makin akrab dengan jarum akupuntur.
Pengalaman Adik
            Suatu hari adik yang tinggal di rumah kami terserang penyakit typus. Kasihan sekali melihatnya, apalagi saya punya tiga krucil sehingga tak sempat merawat adik. Setelah seminggu dia terbaring lemas, makanan susah masuk dan tidur susah lelap. Saya mengajaknya untuk diterapi akupuntur. Awalnya adik menolak, dia memang sama dengan kakaknya takut sama jarum. Tapi setelah dibujuk akhirnya dia menyerah.
Adik banyak mengeluhkan sakitnya pada terapis yang direspon denegan baik dan ramah.
“Teh, nggak bisa tidur sudah beberapa hari.”
“Tenang, sekarang dikasih obat tidur,” kata terapi sambil menusukkan satu jarum di tempat yang tepat.
“Teh, sudah beberapa hari nggak bisa buang angin.”
“Yuk kita keluarin anginnya,” satu jarum lagi ditusukkan pada tempat yang pas.
“Teh, nggak enak makan udah beberapa hari.”
“Ini dikasih vitamin,” satu jarum tertancap lagi.
Begitu seterusnya. Lucunya, setiap tusukan direspon adik dengan sebuah teriakan, “Teteeeh … sini, pegangin.”
Ah, sekarang bisa ngetawain adik, dulu mah saya saya juga ketakutan lihat jarum. Bedanya, saya tak sampai jerit-jerit, Cuma bilang, “Aww …. “ sambil nyengir.
Tapi karena kondisinya yang lemah, meski menjerit-jerit tapi adik tak bisa kabur.
Selesai diakupuntur adik sudah mulai bisa tersenyum, wajahnya pun tak sepucat saat baru datang. Rasa sakitnya terbayar karena saat pulang dia sudah bisa tidur nyenyak dan mulai mau makan.
Setelah terapi akupuntur kedua kali Alhamdulillah sakit typusnya sembuh tanpa harus dirawat di rumah sakit.
Sekarang saya bisa bilang, jangan takut sama jarum akupuntur asal dilakukan oleh ahlinya. Jadi, lebih sakit mana jarum suntik atau akupuntur? Kalau menurut saya lebih sakit jarum suntik, buktinya cukup satu, tak akan mau disuntuk dua jarum apalagi puluhan seperti jarum akupuntur hehe …
Oh iya sekedar tips sedikit bagi yang ingin mulai mencoba terapi akupuntur:
ü  Berpikir positif
Akupuntur merupakan terapi yang sudah terbukti bisa dipertanggungjawabkan, jadi jangan takut. Sebelum diakupuntur niatkan untuk berikhtiar mendapatkan kesehatan.
ü  Pilih terapis yang benar-benar ahli
Jarum akupuntur ditusukkan pada tempat tertentu sesuai kondisi pasien. Karena itu, Anda harus memastikan bahwa sang terapis benar-benar ahli akupuntur artinya sangat memahami titik-titik akupuntur.
ü  Tenang dan posisi nyaman
Berbeda dengan jarum suntik yang setelah ditusukkan langsung dicabut lagi, jarum akupuntur akan disimpan dulu selama beberapa puluh menit sesuai kebutuhan. Karena lamanya itulah maka Anda harus merasa tenang dan berada pada posisi nyaman. Anda tak bisa minta tiba-tiba cabut jarum saat merasa pegal, karena hal itu bisa berakibat fatal. Misalnya, tiga puluh menit itu untuk menguatkan organ tertentu, sedangkan dua puluh menit itu untuk melemahkannya.
ü  Jika ada rasa pegal atau nyetrum
Sebenarnya, saat jarum ditusukkan bisa jadi kita tak merasakan apa-apa tapi bisa juga ada rasa nyetrum atau pegal. Biasanya terapis akan menggoyang-goyang jarum hingga terasa nyetrum atau pegal. Jangan khawatir, justru itu bagus karena artinya jarum itu sudah pas menyentuh titik saraf yang badaan Anda butuhkan.

Apa lagi ya? Itu dulu saja ya … Jika Anda punya pengalaman berkaitan dengan akupuntur, mari sharing di kolom komentar. Semoga tulisan kita akan bermanfaat bagi banyak orang. J

28 komentar:

  1. Pengalaman yang menarik, Mba. Selama ini saya hanya lihat akupuntur di film-film. Ternyata nggak sesakit yang dibayangkan. Kalau bisa tambahkan alamat lengkap tempat terapinya,Mba. Siapa tahu ada yang benar-benar membutuhkan meski dari luar kota.

    BalasHapus
  2. Saya pernah waktu di Depok enak banget rasanya di badan

    BalasHapus
  3. Wah mbak saya juga takut hihi apalagi banyak banget jarumnya. Sekali waktu pas mau ambil darah aja takutnya bukan main. Makasih ya info dan sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi kalau tahu enak hasilnya bakal mau lagi

      Hapus
  4. Saya pernah batuk parah, sementara saya sedang hamil muda. Dokter enggak berani kasih obat. Jadilah saya dirujuk ke dokter akupuntur. Dan diterapi sekali saja, di sekitar muka dan leher. Pertama ngeri lihat ratusan jarumnya. Tapi demi kesembuhan saya berusaha rileks saja..
    Dan Alhamdulillah, batuknya berkurang banyak. Tinggal dipakai istirahat, balur-balur, minum hangat. Beberapa hari kemudian sembuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah di leher saya belum pernah, kalau di kepala pernah. Buat ngilsngin batuk juga cepet ternyata yaa

      Hapus
  5. Wah, berkah ngaji ya mbak, dapat ilmu akhirat dapat pengobatan gratus pula, duh, bahagianya

    BalasHapus
  6. Kalau antara jarum suntik ama jarum akupuntur aku lebih suka jarum arupuntur kayaknya. Soalnya kayak yang enak gitu kayak dipjit wkwkwk

    BalasHapus
  7. Belum pernah diakupuntur. Takuuut hehehe..

    BalasHapus
  8. Kebetulan ayah saya master akupresur dan perintis peneliti akupunktur di Indonesia. Alhamdulillah bermanfaat bagi banyak orang ya saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah masya Allah ... Jadi kepo sama ayahnya mba Dewi😊

      Hapus
  9. Suami pernah akupunktur. Sakit yg namanya Myestania Gravis, ada kaitan dng syaraf mata. Udh ke dokter, RS dicek macam², minum obat, blm berhasil. Sembuhnya akupunktur, 9X sesuai jadwal. Skrng kalo pengen aja, badan kurang enak, akupunktur...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah sampai sembuh ya ... Ikut bahagia Bu ... Ada temen yg menderita Mystania juga. Saya coba kadih tahu beliau

      Hapus
  10. Wah, saya juga pernah diakupunkur, engga sakit mb, malah enteng juga pusingnya.

    BalasHapus
  11. Wah, saya cuma pernah bekam. Belum pernah akupuntur, nih. Jadi tau lebih banyak dari tulisan teteh ini. Makasih infonya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, mba ... Cobalah, enak hasilnya😊

      Hapus
  12. Belum pernah punya pengalaman diakupuntur tapi penasaran juga lihatnya. Pernah sekali dibekam tapi rasanya pasti beda, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda banget mba ... Akupuntur langsung ke saraf

      Hapus
  13. Belum pernah diakupuntur mabk. Takut saja lihat jarum tertusuk di badan, dimana-mana lagi heuu ngeri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe kalo udah nyoba nggak akan takut lagi, Bun

      Hapus
  14. Wah pengalaman yang menarik nih. Kok saya jadi pengen coba akupuntur juga ya mbak? Kebetulan mama yg kena stroke juga terapi akupuntur. Tapi di Surabaya sama kakak jadi sy gak tahu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah2an mamanya cepet sembuh dengan ikhtiar akupuntur ya mba ...

      Hapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bandung XIII, Hanya 45 Hari Lulusan STTB untuk Bekerja

Sabtu, 8 Desember 2018 Hotel Hariss and Conventional Festival Citylink menjadi saksi sebuah prosesi yang sangat didambakan oleh para...