Minggu, 02 September 2018

Antara Anak, Televisi, dan Buku


gambar: dokumen pribadi

Bulan Ramadhan kemarin kami memutuskan untuk memiliki televisi setelah bertahun-tahun tidak memilikinya. tentunya setelah melalui berbagai pertimbangan yang banyak. Meski begitu, ternyata tetap saya menyesali keputusan ini. Biasanya, saat waktu luang di rumah ini akan dijumpai anak-anak yang membaca buku atau main bersama. Sekarang, susah sekali meminta mereka untuk membaca buku dan lebih memilih enonton televisi.

Saat pulang sekolah biasanya anak-anak akan mencariku, bermanja, lalu minta diceritakan sebuah dongeng lucu pengusir lelah mereka. Sekarang, pulang sekolah mereka duduk di depan televisi dan menonton. Terus terang saya merasa kehilangan.

Bertahun-tahun rumah tanpa televisi membuat kami menyadari kebaikan rumah tanpa televisi, antara lain:   

LEBIH BANYAK WAKTU BERKUMPUL BERSAMA KELUARGA
Saat ada televise, biasanya keluarga hanya berkumpul secara fisik, pikirannya focus pada acara TV. Nah, karena tidak ada pengalih berupa TV, jadi saat berkumpul keluarga menjadi ramai. Bisa ngobrol kesana kemari, berdiskusi, bercanda ria, main teka, teki dan sebagainya.

2.      LEBIH SUKA MEMBACA BUKU
Sebenarnya, anak-anak kami terutama si Sulung sudah suka membaca. Sehari ia bisa menamatkan beberapa buku novel saat libur. Tapi saat ada televise, waktu untuk membacanya jauh berkurang. Tergantikan dengan waktu untuk meonton televisi. Benar saja, setelah tak ada TV, mereka kembali banyak membaca buku.

3.      WAKTU MENONTON LEBIH MUDAH DIATUR
Saat ini TV tayang 24 jam sehingga kapan pun mereka mau bisa menonton. Ini jelas tidak bagus untuk membangun kedisiplinan. Tanpa TV, waktu anak-anak tidak diatur jadwal menonton. Orang tua pun bisa menjadikan menonton di laptop sebagai reward saat mendisiplinkan anak.

4.      ANAK MALAS BERPIKIR
Televisi banyak menyajikan tontonan menarik yang tidak menuntut anak untuk berpikir. Warna-warna menariknya membuat mereka selalu ingin menontonnya lagi dan lagi. Hal itu membuat anak mudah bosan saat berhadapan dengan buku yang membuat mereka harus berpikir. Apalagi buku pelajaran yang sedikit sekali menyajikan gambar menarik.

Bukankah anak-anak pun perlu mendapatkan kegiatan menarik dan hiburan untuk menyenangkan mereka?

Tentu saja anak pun bisa mendapatkan hiburan dan kegiatan menarik meski tanpa televisi, yakni dari buku-buku yang menarik. Anda harus mengetahui bagaimana buku yang menarik untuk anak kecil. Antara lain: menggunakan bahasa sesuai usia anak, memiliki gambar yang lebih banyak dari pada tulisan, memiliki tulisan yang sedikit, memiliki warna yang cerah dan menarik, dan tidak mudah sobek.

 Buku Balita Berakhlak Mulia dari Sygma Daya Insani misalnya. Buku ini berisi cerita seputar akhlak Nabi Muhammad dengan bahasa yang mudah dipahami anak kecil. Warna dan gambarnya menarik serta tulisan yang sedikit. Yang tak kalah pentingnya, buku ini berbentuk boardbook, yakni tebal sehingga tidak akan bisa disobek oleh anak.

Anak-anak kami sangat menyukai buku boardbook milik mereka. Mereka bukan hanya membaca, tetapi juga bermain dengan bukunya. Menjadikannya mobil-mobilan, kereta api, menumpuknya seperti gedung tinggi, menjadikannya dinding rumah-rumahan dan sebagainya. Tak apa, justru itu membuat mereka lebih mudah akrab dengan buku.

Buku boardbook membuat orangtua tak perlu khawatir bukunya akan disobek anak, karena sangat tebal. Jika kotor atau kena air pun mudah dibersihkan.

Jangan lupa Ayah Bunda, membuat anak akrab dan mencintai buku itu lebih penting dan lebih sulit dari pada membuat anak menguasai keterampilan membaca.

 Semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan manfaat. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Aktualisasi Diri Ibu Rumah Tangga Bersama ASUS

              Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup adalah memiliki ayah yang sangat mencintai buku. Tinggal di kampung ...