Jumat, 07 September 2018

Aktualisasi Diri Ibu Rumah Tangga Bersama ASUS



             
Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup adalah memiliki ayah yang sangat mencintai buku. Tinggal di kampung dan pendidikan formal tidak tinggi, tidak menghalangi beliau untuk benyak membaca buku dan berlangganan koran. Beliau pun memenuhi dinding rumah kami dengan buku-buku koleksinya. Maka tak heran jika kemudian saya dan adik-adik menjadi akrab dengan buku sejak kecil.
Akrab dengan buku membuat saya memiliki cita-cita menjadi seorang penulis. Pasti bangga sekali jika suatu saat nama saya tercetak pada sampul buku dan dipajang di rumah kami. Saat itu saya sama sekali tak punya gambaran bagaimana cara mewujudkan impian tersebut.
Saat SMU tulisan pertama saya terbit di majalah berbahasa Sunda, Mangle. Meski hanya tuisan sederhana tapi rasanya bahagia tidak terkira. Mesin tik jadul bekas Bibi (adik Ayah) menjadi andalan saya untuk menulis saat itu.
Saat kuliah saya masih menggenggam cita-cita untuk menjadi penulis. Sering sekali saya mengikuti pelatihan menulis baik yang diselenggarakan di kampus mau pun luar kampus. Saat itu mulai banyak rental computer, tetapi saya masih setia dengan mesin tik jadul.
Dua bulan setelah diwisuda, tepatnya 25 Desember 2003 saya berganti status menjadi seorang istri. Suami meminta saya untuk tidak bekerja di luar rumah. Dengan suka rela saya menyetujuinya. Di samping alasan karena cinta, saya pun sudah memiliki rencana untuk diwujudkan. Saat itu saya yakin, cita-cita menjadi penulis akan terwujud jika saya menjadi ibu rumah tangga. Menulis akan menjadi sarana aktualisasi diri serta mengamalkan ilmu hasil kuliah.
Rupanya Allah menjodohkan saya dengan seorang yang memiliki cita-cita sebagai penulis pula. Saat bayi kami lahir, lahir pula buku pertama suami. Ini momen yang luar biasa buat saya. Saya merasa mendapat motivasi yang kuat untuk mewujudkan mimpi menjdi penulis. Berbekal komputer suami, saya pun mulai melangkah untuk mewujudkan mimpi dengan menulis naskah buku.
Saya menulis saat bayi tidur dan suami di kantor sehingga komputernya nganggur. Sedikit-demi sedikit hingga tuntas berbulan-bulan kemudian. Terus terang, saya hanya punya modal nekad. Tak ada mentor untuk bertanya apakah naskah ini layak terbit atau tidak. Untuk meningkatkan kepercayaan diri, saya mengajak seorang sahabat untuk bergabung. Kami, dua orang ibu rumah tangga mengetuk pintu penerbit mayor dengan modal nekat. Alhamdulillah, akhirnya berbuah manis, naskah kami terbit setahun kemudian setelah melewati masa revisi yang berdarah-darah.
            Setahun kemudian, seorang teman menawariku untuk bergabung mengerjakan sebuah proyek buku anak. Sebenarnya, saya merasa berat untuk menerima tawaran ini. Disamping deadline yang ketat, saat itu kami tidak memiliki komputer.
            Setelah berdiskusi dengan suami, beliau ternyata mendukung saya untuk mengambil tawaran ini. Beliau bersedia mengasuh kedua anak kami saat saya menyelesaikan tulisan. Untuk mengerjakan proyek ini kami sampai menyewa angkot untuk mengambil komputer dari tempat kost adik. Alhamdulillah, saya merasa amat bersyukur karena suami sangat mendukung cita-cita istrinya.
            Tahun 2011 saya merasa sudah saatnya memiliki laptop pribadi. Rasanya tak enak terus-terusan menggunakan laptop punya suami. Di samping karena waktu menulis menjadi sangat terbatas bergantung suami ada di rumah dan laptop nganggur. Sayang sekali kalau banyak ide yang akhirnya terlupakan. Rupanya suami sudah menilai kesungguhan saya dalam dunia menulis. Sehingga tanpa banyak bicara suami langsung setuju dan kami mulai mencari informasi seputar laptop.
            Kami sepakat untuk memesan pada seorang teman yang mengerti seluk beluk laptop. Dia bertanya ingin merk apa, budget berapa, dan kebutuhannya apa saja. Saya sebut budgetnya sekian, ada pun mengenai merk dan spesifikasinya saya percayakan sepenuhnya pada dia. Saya bilang, “Saya butuh laptop untuk menulis buku, minta yang awet karena terus terang saya bisa dibilang buta sama urusan membetulkan laptop”. Saya pun minta yang ringan, supaya ringan membawanya saat harus bepergian. 
            Setelah beberapa kali diskusi akhirnya disepakati bahwa kami memesan notebook ASUS. Teman kami menjelaskan keunggulan notebook ini dan kami mempercayainya. Dia bilang notebook ASUS itu awet dan tidak rewel. Dan memang terbukti, hingga saat ini notebook ASUS ini sudah tujuh tahun menemaniku dan masih nyaman dipakai.

Menulis di notebook ASUS sambil mengasuk si Kecil 

Selama tujuh tahun ini, notebook ini hanya pernah diservis dua kali. Sekali karena layarnya bergerak-gerak yang kedua karena keypadnya tidak bisa digunakan. Karena dipukul-pukul balita. Maklumlah, saya ngetiksambil ngasuh J.  Chargernya pun awet, saya tak pernah menggantinya, hanya pernah diservis satu kali saja. Saya pikir ASUS ini termasuk bandel, mengingat saya punya empat krucil yang selalu mau nimbrung. Namanya juga Emak-emak, selain berfungsi untuk menulis, notebook ini berfungsi untuk menonton film kartun oleh anak-anak. Kadang mereka sampai rebutan hingga tak aneh notebook ini kadang kedudukin atau terjatuh saat rebutan. Hal yang dikeluhkan anak-anak dengan notebook ini karena layarnya kecil dan tidak ada CD room saja. 
Syukurlah saat itu tiga buku sudah terbit, berarti impian sejak masa kecil untuk menjadi penulis telah mulai tercapai. Tapi entah mengapa saya merasa belum merasa pantas untuk disebut penulis. Rasanya saya sangat membutuhkan ilmu, mentor, serta komunitas penyemangat menulis.
Rupanya, harapan saya terjawab dengan dilaunchingnya Sekolah Perempuan. Begitu membaca informasinya, saya langsung bertanya banyak hal pada sang founder, Teh Indari Mastuti. Setelah itu saya komunikasikan pada suami dan kami sepakat bahwa ini yang saya butuhkan. Saya pun mendaftar menjadi peserta Sekolah Perempuan angkatan pertama. Suami mendukung dengan dana dan tenaganya, beliau setiap Sabtu selama 12 minggu mengasuh tiga anak kami di rumah, Saya amat sangat bersyukur atas kebaikan hatinya.

Bersama teman-teman Sekolah Perempuan

Salah satu syarat mengikuti sekolah perempuan adalah memiliki laptop dan membawanya saat belajar. Maka selama 12 pertemuan notebook ASUS ini saya bawa bersama perlengkapan lainnya, naik turun angkutan umum. Untunglah notenya ringan hingga tubuh mungil saya tak terlalu terbebani. Notebook ASUS ini pula yang saya gunakan menulis setiap menjelang subuh untuk mengejar target satu naskah selama mengikuti program Sekolah Perempuan. Alhamdulillah, target tercapai tepat waktu dan beberapa bulan kemudian bukunya terbit di Elex Media Komputindo.
Buku yang terbit setelah mengikuti Sekolah Perembuan

Mengikuti Sekolah Perempuan ternyata benar-benar mewujudkan impian saya, memiliki mentor, komunitas menulis, ilmu menulis, hingga jaringan ke penerbit. Meski di rumah saja, saya masih tetap berkarya. Hingga saat ini belasan buku solo ditambah buku antologi telah berhasil saya tulis dan diterbitkan. Bukan hanya menulis buku, saya pun merambah menjadi penulis konten serta blogger.
Saya pikir sudah saatnya mengganti laptop dengan yang memiliki layar lebih lebar. Akhir-akhir ini mata sering terasa sepet dan pandangan memburam. Pasti ini karena terlalu sering membaca novel serta menulis di notebook yang layarnya kecil. Tapi tetap saya ingin nyari yang agak ringan saat ditenteng.
Kemarin sudah nyari-nyari informasi seputar laptop ASUS, (karena sudah terlanjur suka ASUS J) dan membaca spesifikasinya, rasanya saya menyukai laptop ASUS Vivobook Flip TP410. Ini alasan saya menyukai laptop ASUS VVivobook Flip TP410:
Sumber gambar: www.asus.comLaptop ASUS Vivobook Flip TP410 incaranku

1.   
Tipis dan ringan
Laptop ASUS Vivobook Flip TP410 ini tipis dan ringan. Laptop berukuran 14 inci ini tebalnya hanya 1,92cm dan berat 1,6kg, ringan sekali kan?
Cocok banget buat saya yang nggak kuat lama menggendong laptop yang berat, bikin sakit pundak. Apalagi Emak-emak kemana pun pergi pasti membawa banyak perlengkapan krucil.

2.    Nyaman untuk mengetik
Vivobook 14 ini sangat sangat nyaman buat ngetik, ini penting banget buat seorang penulis yang sering dikejar deadline seperti saya. Selain itu dilengkapi tombol backlit yang memiliki control cahaya sekitar. Ini solusi bagus jika sesekali lampu mati atau penerangan kurang bagus saya bisa tetap bisa produktif.

Baterai Awet
Suka ribet kan ya kalau lagi seru-serunya menulis tiba-tiba baterai habis, mesti nyari dulu charger yang kadang lupa nyimpan karena dimainkan krucil di rumah. Khawatir ide keburu menghiang. Nah, Laptop ASUS Vivobook Flip ini jika diisi penuh maka dapat bertahan seharian. Dan teknologi ASUS Battery Health Charging akan membantu melindungi baterai kita saat diisi ulang.

NanoEdge Display
ASUS Vivobook Flip TP410 berfitur nanoedge yang amat canggih. Hal ini tentu akan mendukung saya untuk bekerja lebih kreatif. Sekarang kan penulis juga dituntut untuk lebih kreatif ya.

5.    Bisa jadi empat mode
ASUS Vivobook Flip TP410 ini bisa didisplaiy menjadi 4 mode yaitu media stand, powerful laptop, responsive tablet dan share viewer. Kalau pas bedah buku bawa laptop ini, pakai dengan mode media stand atau share viewer, pasti keren banget kelihatannya. Nggak akan ada yang mengira sehari-hari kerjanya memakai daster hehe ….
Sumber gambar: www.asus.com
mode shared viewer yang keren banget buat presentasi


6.    Fingerprint Sensor.
ASUS Vivobook Flip TP410 sudah dilengkapi dengan fingerprint sensor. Ini sangat baik untuk keamanan. Karena, saya tak perlu lagi kata sandi yang mungkin bisa diretas hacker, cukup sentuhkan jari maka akses vivobook Flip terbuka. Sidik jari tak bisa ditiru kan?
Sumber gambar: www.asus.com
Laptop canggih yang akan bikin makin produktif


Doakan yaa semoga saya segera mendapat rejeki untuk memiliki laptop ASUS Vivobook Flip TP410 yang menggiurkan ini. Mata saya yang mulai minus banyak ini tentu akan lebih nyaman mengetik di laptop ASUS Vivobook Flip TP410, sehingga akan semakin produktif menulis. Kalian juga tertarik kan?

Artikel ini disertakan dalam lomba blog ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com

Lomba blog ASUS





             
             


31 komentar:

  1. Aaah, seneng banget baca ceritanya mba yang bisa saling support sama suami. Keren, jadi bisa produktif menulis dua-duanya.

    Btw keren review ASUS VivoBooknya. Saya jadi kepengen banget punya lihat layarnya bisa diputar jadi tablet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah �� tanpa restu susmi saya tak bisa berkarya.

      ASUS nya memang bikin mupeng yaa��

      Hapus
  2. Saya juga pengguna asus, so far gak ada keluhan malah sangat support kegiatan menulis saya Bun...

    BalasHapus
  3. Seneng ya, mbak, kalau apa-apa didukung suami.
    Sukses ya, mbak, semoga terus bisa berkarya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seneng bangeet ... Doa yang sama buat mba Wiwid��

      Hapus
  4. Kereen bunda...tanpa mentor sudah bisa tembus mayor. Apalagi setelah sekarang yaaa...dan senang sekali ketika hobi kita didukung oleh suami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba ... Meski berdarah-darah hehe...

      Hapus
  5. Kereeeeeeen banget bun, saya jadi kepengen ganti laptop asus nih hehe. Makasih reviewnya bun

    BalasHapus
  6. Alat yang digunakan penulis adalah laptop, untuk itu perlu memilih laptop nyaman untuk kita. Laptop Asus bisa menjadi pilihan yang tepat

    BalasHapus
  7. Emak kereen. Meski sibuk sama urusan domestik tapi tetep berkarya😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya ini hiburan di tengah rutinitas, mba��

      Hapus
  8. Saya juga pakai Asus tetapi bukan yang jenis ASUS Vivobook Flip TP410. Duh jadi pingin nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga mupeng banget vivabook flip tp410 nya

      Hapus
  9. Masyaallah keren banget kisahnya dan jadi inspirasi buat saya, yang belum bisa manage waktu. Saya juga ingin pake Asus tapi nabung dulu ahh.. Makasih ya mba

    BalasHapus
  10. Masyaallah keren banget kisahnya dan jadi inspirasi buat saya, yang belum bisa manage waktu. Saya juga ingin pake Asus tapi nabung dulu ahh.. Makasih ya mba

    BalasHapus
  11. Waw salut Teh, sama semangatnya. Saya juga pengguna ASUS loh hehe.

    BalasHapus
  12. Tambah semangat berkarya pakai asus, modelnya menarik, dan berguna banget untuk menjadi blogger dan berbagi profesi lainnya😍

    BalasHapus
  13. Dasteran juga bisa produktif ya mbaaaaak. *Toss dulu sesama dasteran*

    Aamiin. Semoga keinginannya tercapai ya mbak. Good luck untuk lombanya.

    BalasHapus
  14. Keren ini asus mah... Semoga beruntung ya mbak..

    BalasHapus
  15. Waahhh top deh tulisan Asus nya..moga menang dan beruntung ya mb? Yuh perjuangan dan semangat nerbitin buku patut ditiru, hihi...revisinya sampai berdarah-darah woww...

    BalasHapus
  16. Terima kasih ya sudah berpartisipasi dalam ASUS Laptopku Blogging Competition. Good luck.

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Pengalaman Diterapi Akupuntur, Lebih Sakit Mana: Jarum Suntik VS Jarum Akupuntur?

  sumber gambar: wub.bandung.go.id Saya sebenarnya orang yang amat takut pada jarum suntik. Saking takutnya sampai-sampai bal...