Minggu, 14 Januari 2018

Ini Dia 5 Rambu Berbisnis Ala Nabi



Sahabat, saat ini dunia bisnis semakin semarak dan bergairah. Tentunya hal ini disebabkan berbagai kemudahan yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi. Bayangkan, dulu orang tua kita untuk berbisnis itu harus punya toko dan barang-barang yang dijual di toko. Harus stand by duduk jaga toko atau mengupah orang untuk menjaganya. Setelah barang habis harus belanja lagi untuk mengisi toko. Jika banyak yang berhutang dan tak ada modal cadangan maka terpaksa tak bisa belanja lagi sampai modal kembali. Orang yang berbelanja tentu terbatas pada orang sekitar daerah toko itu ada, orang yang melewati daerah itu, atau orang jauh yang sudah menjadi langganan. Meski ada toko yang buka 24 jam tapi umumnya toko punya jadwal buka dan tutup.

Coba bandingkan dengan keadaan sekarang, kemajuan teknologi membuat segalanya menjadi fleksibel. Semua orang bisa berbisnis apa saja, di mana saja, kapan saja, sambil apa saja bahkan jika tak punya modal sepeserpun. Seorang mahasiswa misalnya, disela-sela kuliah ia berbisnis melalui gadget tanpa modal. Tinggal promosi di BBM, WA, Twiter, FB, dll. Kalau ada yang pesan ia segera memesannya kepada agen yang nantinya langsung mengirim pada konsumen. Pembayaran cukup ditransfer. Mudah bukan? Siapa pun bisa melakukannya termasuk orang yang merasa malu jika harus berjualan secara face to face. Mungkin termasuk Anda hehe .…

Nah, sebagai pebisnis, kudu bin wajib Anda mengetahui rambu-rambunya sesuai contoh Rasul. Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah Saw. telah berbisnis sejak masih belia. Dan dari bisnis itu beliau memiliki kekayaan yang luar biasa sebelum diangkat menjadi nabi. Mari kita melihat bagaimana etika beliau dalam berbisnis, untuk kita jadikan rujukan saat ini.
1.       Menomorsatukan kejujuran
“Para saudagar pada Hari Kebangkitan akan dibangkitkan sebagai pelaku kejahatan, kecuali mereka bertakwa kepada Allah, jujur, dan selalu berkata benar.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Darimi, dan Baihaqi)
Sejak muda Rasulullah terkenal dengan gelar Al Amin artinya orang yang dapat dipercaya. Demikian pula dalam berbisnis, beliau sangat mengedepankan kejujuran. Sampai-sampai Khadijah kesemsem berat setelah pembantunya, Maesyaroh menceritakan perihal sikap Nabi saat berdagang. Hal itulah yang membuat Khadijah memutuskan untuk melamar Muhammad Saw. menjadi suaminya.

2.      Menjelaskan kualitas barang
“Tidak boleh seseorang menjual sesuatu, kecuali dengan menjelaskan apa yang ada padanya, dan tidak boleh bagi orang yang mengetahuinya, kecuali harus menjelaskannya.” (HR. Hakim)
Kalau jualan offline mungkin mudah terlihat ya saat sebuah barang ada cacat. Tetapi, bagi pebisnis online ini harus betul-betul diperhatikan, karena konsumen kan tidak tahu kualitas barang yang Anda jual kecuali dari spesifikasi produk serta gambar yang Anda berikan.

3.      Tidak menjual barang haram
“Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan penjualan anggur, hewan yang mati secara alami (tidak disembelih), babi, dan berhala.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Bagi seorang muslim, bisnis bukan hanya urusan dunia, tetapi juga urusan akhirat. Karena itu, masalah halal haram amat sangat harus wajib diperhatikan.

4.      Menjaga etika dalam hubungan bisnis
Nabi amat memperhatikan etika dalam berbisnis. Sehingga, beliau tidak memiliki musuuh dalam bisnis. Demikian pula kita sebagai umatnya, hendaklah menjaga etika bisnis. Hal yang sederhana, tampak sepele, tapi sering dijumpai adalah spaming. Masih banyak penjual yang melakukan spaming dengan mempromosikan dagangannya di kolom komentar orang lain yang sedang berjualan. Ini sangat tidak etis, ibaratnya dia masuk ke toko orang lain dan menggelar lapak di sana.

5.      Menjauhi sumpah yang berlebihan
“Hati-hatilah terhadap sumpah yang berlebihan dalam suatu penjualan. Meskipun meningkatkan pemasaran, ia juga akan mengurangi berkahnya.”

Kata Nabi, orang yang banyak bersumpah itu biasanya banyak berdusta. Tak perlulah Anda bersumpah berlebihan untuk menarik pembeli. Toh kalau barang Anda memang berkualitas, pembeli pun tak akan lari. Buat apa Anda mengejar keuntungan yang cepat dengan sumpah berlebihan, tetapi berkahnya berkurang.

Demikian antara lain lima rambu-rambu bisnis ala Nabi. Semoga Anda dapan meneladaninya dan kemudian sukses seperti beliau. Aamiin.





14 komentar:

  1. Zaman sekarang memang semakin banyak pedagang yang "ngobral kecap", Mbak. Kita yang jadi konsumen harus hati2, sekaligus harus mengingatkan diri sendiri untuk menjadi pedagang yang amanah jika suatu saat memiliki kesempatan berbisnis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak yang cari untung dengan cepat ya... semoga kita bisa jadi konsumen yang hati-hati dan pedagang yang amanah ya..

      Hapus
  2. Menjelaskan kualitas barang, ini nih yang paling banyak ditemukan pelanggarannya. Katanya, barang dijamin kualitas bagus ternyata tidak. Apalagi yang belanja online, makin sering de kecewa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau rambu-rambu Nabi dipatuhi semua, nggak akan ada yang dikecewakan ya, Mba...

      Hapus
  3. Iya nih terkadang penjual online mengabaikan untuk menjelaskan kualitas barang yang dijual

    BalasHapus
  4. Iya betul, walau bisnis dimudahkan, prinsip bisnis tetap harus dipegang.

    BalasHapus
  5. Kadang kecewa sama pedagang yang berlebihan promosinya.. Yang ternyata jauh dari kondisi asli. Jadi deh ekspetasi nggak sama dengan realita... Huaaaa😩

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul...Aduh harus introspeksi kayaknya saya juga, jangan sampai jadi penulis bikin review berlebihan :)

      Hapus
  6. Bener banget mba, tipsnya emang yahud. Saya paling males urusan belanja online. Barang yg dipajang ama yg datang bedanya kayak siang ama malem, hikss..

    Kudu pinter cari penjual yg jujur mah yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah banyak kasus kayaknya yah para penjual online dengan kualitas barangnya...

      Hapus
  7. Seandainya seluruh pedagang melakukan hal ini. Sebagai konsumen pasti nyaman melakukan transaksi jual beli

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Pengalaman Diterapi Akupuntur, Lebih Sakit Mana: Jarum Suntik VS Jarum Akupuntur?

  sumber gambar: wub.bandung.go.id Saya sebenarnya orang yang amat takut pada jarum suntik. Saking takutnya sampai-sampai bal...