Rabu, 29 November 2017

Sendy Hadiat, Keluarga Adalah Sahabat Pertama

  

Pernahkah Anda merasa menjadi orang paling malang di dunia? Suami sibuk bekerja, pulang tinggal capenya, bahkan hari libur pun harus lembur. Rumah mungil seperti kapal pecah di setiap sudutnya. Anak-anak bertengkar hampir sepanjang hari. Jika diteruskan daftarnya akan semakin panjang tanpa ujung. Bahkan sekedar WA lambat dijawab pun masuk daftar.

Saat merasa paling malang di dunia, ada baiknya sejenak melihat dunia luar, dan melihat ke bawah. Ternyata Anda jauh lebih beruntung dari mereka. Saat itu Anda akan lebih bersyukur.

Ujian Hidup

Ujian hidup merupakan sunatulloh. Setiap orang akan menerimanya, hanya saja bentuknya berbeda-beda. Mba Sendy Hidayat ini misalnya. Beliau terindikasi mengidap bipolar atau ODB (Orang Dengan Bipolar).

Normal sekali jika orang mengalami fluktuasi emosi. Kadang sedih, gembira, terharu, kecewa, cemas, khawatir, dan seterusnya. Tetapi penderita bipolar mengalami dua kubub ekstrem dalam emosi. Depresi dan mania istilahnya. Apa saja tanda-tandanya? Berikut ini tanda seorang bipolar apaah dalam fase depresi atau mania.

 Disebut depresi jika:

1. Perasaan mood menurun hampir sepanjang hari.
2. Menurunnya minat dan kesenangan.
3. Penurunan berat badan, nafsu makan.
4. Susah tidur atau kebalikannya tidur terus.
5. Malas gerak atau lebih banyak gerak.
6. Lelah, capek atau hilang energi.
7. Perasaan sensitif, tidak berarti dan rasa bersalah yang berlebihan.
8. Menurunnya konsentrasi berpikir, kefokusan, cara berpikir.
9. Pikiran berulang mengenai kematian. Upaya bunuh diri terus menerus berulang dan bisa direncanakan spesifik.
10. Menutup diri dari lingkungan.
11. Berdiam diri sendiri
12. Tidak berani menghadapi orang.

 Disebut Mania jika:

1. Kurangnya kebutuhan tidur. Mampu bergadang atau tidak tidur, tidak merasakan kantuk bahkan sampai berhari-hari.
2. Lebih banyak bicara atas tekanan yang ada.
3. Meningkatnya aktivitas atau banyak bergerak.
4. Tinggi akan ide-ide yang kreatif dan inovatif namun tidak berpikir resiko atau cara yang tepat untuk mewujudkannya.
5. Harga diri yang tinggi, merasa terhina, terlecehkan dan sendiri.
6. Perhatian yang mudah beralih kepada hal-hal yang tidak penting atau bahkan gak relevan.
7. Terlibat atau melibatkan pada kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan yang beresiko menyakitkan dirinya sendiri.

Itulah yang dirasakan Mba Sendy Hidayat.  Beliau dinyatakan mengidap bipolar sejak tahun 2012.  Pada awalnya belau dan keluarganya tidak mengetahui apa pun mengenai bipolar dan bagaimana cara mengatasinya. Hal itu menyebabkan beliau mengalami masa saat orang-orang disekitarnya bahkan orang terdekat pun mencaci maki dan menghujat. Sehingga semakin berat tekanan yang beliau terima. Saat itu pun keluarganya tinggal di Amerika sehingga membuat Mba Sendy berjuang sendirian.

Fase mania yang dialami perempuan kelahiran Jakarta, 7 Desember 1984 ini ternyata meninggalkan masalah yang banyak. Beliau menyebutnya meledak seperti bom waktu. Akhirnya beliau mencari sendiri arti bipolar, penyebab, pencegahan dan cara mengatasi bipolar. Beliau membaca buku yang sudah sejak tahun 2013 membelinya, namun tidak pernah dibaca. Di buku itu beliau menemukan jelas apa itu Bipolar, dan kabar baiknya belau mendapat informasi mengenai psikiater dalam buku tersebut yang akhirnya menjadi pasien sang psikiater di Yogyakarta.

Bersama kesulitan ada dua kemudahan

Bersama kesulitan ada kemudahan, itu janji Allah yang pasti benar, dan Mba Sendy telah membuktikannya sendiri. Beliau diuji dengan Bipolar Disorder, tetapi tidak sendirian, karena ada suami siap mendukungnya. Sang suami berperan sebagai caregiver atau penolong yang membantu, menyemangati dan bekerja sama memberi kekuatan. Suaminya juga yang menjadi perantara pada keluarganya yang tidak mengerti Bipolar. Ini sungguh anugerah yang sangat besar dan membuatnya bahagia.

Setelah mengetahui bahwa dirinya ODB, Mba Sendy lebih banyak belajar tentang Bipolar itu sendiri. Memahami, membedakan 2 fase dalam dirinya, menjaga stabilitas ketenangan hati dan pikiran sebelum menjadi stressor yang akan menyulut pemikiran keliru dalam otak.
Juga menghindari faktor-faktor stressor yang bisa membuat kambuh fase mania dan depresi.

Setelah mengetahui dirinya ODB dan mampu menerima keadaan dirinya dengan ikhlas, ternyata hal itu memunculkan kebahagiaan. Beliau memahami bahwa menjadi Bipolar memang bukan pilihan, tapi ini merupakan ujian takdir Allah yang beliau terima. Hal ini mungkin kemudahan lain dari Allah. Beliau ini bisa hidup apa adanya, kalau mau menangis, menangis saja. Kalau mau marah, marah saja dan mampu bicara apa adanya tanpa ada rasa ketakutan ditinggalkan, kehilangan karena memahami hidupnya hanya milik Allah.  

Berbagi dan bermanfaat untuk orang lain


Kini, Mba Sendy ingin memberikan manfaat bagi orang lain dengan menuliskan pengalamannya sebagai seorang ODB. Beliau ingin memberikan inspirasi kepada semua perempuan bahwa keluarga merupakan akar dari semua kehidupan. Akar mental dan jiwa. Kesehatan begitu mahal dan persahabatan tidak harus di dapat dari orang lain, karena sesungguhnya keluarga merupakan sahabat pertama kita. Memberikan pelajaran penting dan pedulinya peran sebagai orang tua. Juga memberikan inspirasi penerimaan dan penghambaan diri hanya pada Allah SWT, serta keyakinan bahwa segala yanag terjadi merupaan ketetapan dan ketentan Allah.

Luar biasa sekali energinya, beliau berhasil menyusun buku 160 halaman selama 2 hari dengan dibimbin Teh Indari Mastuti sebagai peserta Private Writing Coaching di Indscript. Dan buku berjudul Menemukan-Mu dan Menemukannya kini telah terbit siap menginspirasi seluruh perempuan.

Dalam bukunya beliau bercerita tentang pengalamannya menghadapi "bipolar". Mengapa ia mengalami bipolar hingga bagaimana usaha beliau menghadapinya. Semoga apa yang beliau lakukan untuk memberi manfaat pada orang lain dicatat sebagai amal baik di sisi Allah.

Berikut ini testimony Teh Indari selaku mentor menulis Mba Sendy mengenai bukunya, “Buku ini mengajarkan saya tentang satu hal: kepekaan seorang ibu pada tumbuh kembang anak. Semoga Allah menjaga anak-anak di seluruh dunia. Terimakasih Sendy untuk kisah inspirasi yang dengan berani engkau tuliskan.”



14 komentar:

  1. Masya allah sunggh sebuah kisah yang sangat inspiratif dan sangat memotivasi

    BalasHapus
  2. Dalam kondisi apapun, keluargalah faktor utama dalam mendukung penyembuhan.

    BalasHapus
  3. Setuju..keluarga adalah sahabat yang pertama dan utama:)

    BalasHapus
  4. Keren... Dalam kondisi seperti itu masih bisa berkarya

    BalasHapus
  5. Mengambil hikmah dari setiap kejadian adalah kekuatannya mbak sendy

    BalasHapus
  6. Dibalik yang negatif pasti ada positifnya

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Aktualisasi Diri Ibu Rumah Tangga Bersama ASUS

              Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup adalah memiliki ayah yang sangat mencintai buku. Tinggal di kampung ...