Selasa, 10 Oktober 2017

MEWUJUDKAN MIMPI MENJADI PENULIS BUKU


Malam kemarin saya diminta sharing di sebuah grup menulis & bisnis. Temanya “Mewujudkan Mimpi Menjadi Penulis Buku”. Saya menyanggupinya dengan senang hati. Bukan…bukan karena saya sudah sangat mahir menulis atau sangat banyak melahirkan buku. Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang semoga bermanfaat untuk orang lain. Selain itu untuk memotivasi diri sendiri agar semakin semangat berkarya. Seperti inilah sharing saya malam itu yang diselingi ngelonin si Bungsu Khalifa:

Assalamualaikum semuanyaa...  😊 😊 😊 πŸ™
Senang sekali saya bisa bergabung di sini untuk sharing sedikit pengalaman "Mewujudkan Mimpi Menulis Buku".
Oh ya, tak kenal maka tak sayang yaa...  😊perkenalkan, saya Dedeh Sri Ulfah. Ibu rumah tangga yang memiliki empat orang putra dan putri. Pekerjaan utama saya mengurus rumah dan mengasuh anak. Jika ada waktu luang, saya menulis dan berbisnis.

Beberapa karya saya:
Fabled Wisdom for Modern Life (Proggressio, 2007),
Perjalanan Andi (Ad-Print Media Pustaka, 2010),
Ensiklopedi Seni dan Budaya Sumatera Selatan (Mentari Utama Unggul, 2012),
Ingin Seperti Mereka: Kisah Nabi dan Tokoh Islam (Elex Media Komputindo, 2014),
Putri-putri Islam Inspiratif (Elex Media Komputindo, 2015),
101 Akhlak Nabi Muhammad (Penebar Swadaya, 2016),
serta tiga buku antologi: Bangga Menjadi Ibu, Diary of Love, Kumcer Romantis.
Pernah menjadi kontributor di portal emakpintar.org (2017).
Untuk bersilaturahim, melalui FB Dedeh Sri Ulfah atau e-mail dedeh_sriulfah@yahoo.co.id.
 
Ini penampakan saya 😊




Menerbitkan Buku Pertama

Buku pertama saya terbit setelah memiliki anak pertama dan hamil muda anak kedua. Karena kurang pede, maka saya ngajak sahabat Nia Kurniawati untuk duet mengerjakan buku ini. Sahabat saya tengah hamil tua saat itu.
Kami membawa naskah lengkap yang sudah diprint mengetuk pintu penerbit. Alhamdulillah dua minggu kemudian langsung di-ACC untuk diterbitkan.
Ternyata perjuangan kami masih panjang. Bolek balik merevisi dan bolak balik mengunjungi penerbit. Waktu itu tahun 2007. Buku pertama kami terbit di Progressio.

Ini penampakan bukunya 😊






Saya sengaja menceritakan dari sebelum ikut Sekolah Perempuan supaya lebih tergambar bedanya sebelum dan setelah ikut SP(Sekolah Perempuan). Setelah itu dua buku lagi terbit di penerbit yang berbeda dan genre yang berbeda.
Mengerjakan dua buku ini pun ada kisahnya sendiri. Yang satu buku novel sains fiksi anak, saya kerjakan kurang dari seminggu. Satu lagi buku ensiklopedi seni budaya, dikerjakan dalam waktu sebulan setengah dan diselingi sakit dua minggu, saking diporsirnya otak saya  πŸ˜…

Sebelum ikut SP saya belajar menulis secara otodidak, belum ikut komunitas menulis untuk saling menyemangati, belum punya mentor untuk bertanya, belum punya jaringan ke penerbit. Semua serba meraba-raba.
Alhamdulillah, teh Indari membuka Sekolah Perempuan perdana. Ini seperti semacam doa yang terkabul.  πŸ˜‡
πŸ˜‡ πŸ˜‡Saya pelajari materinya dan membulatkan tekad untuk ikut. Suami mengizinkan saya ikut SP dan bersedia mengasuh 3 anak kami setiap hari Sabtu. Ini penting ya buat seorang istri, untuk selalu mendapatkan restu suami.  😍 πŸ˜‡

 Saat itu SP masih 12x pertemuan. Saya mengikuti yang offline. Tak pernah bolos sekali pun meski tengah sakit. Sayang kan sudah bayar mahal tapi bolos πŸ˜…
Sebelum ikut SP, saya kesulitan memutuskan sebuah tema yang mau ditulis.
Sering berubah jika menemukan tema yang dianggap lebih bagus.
Jika main ke toko buku, malah makin pusing karena khawatir tema yang mau saya tulis kurang menarik dan kurang menjual.
Di SP justru saya diajari menemukan ide itu paling mudah dari diri sendiri. Dari bakat, minat, hobi, pengalaman, kemampuan, atau potensi kita sendiri sehingga lebih mudah untuk menulisnya dan lebih UNIK. 
 Mentor dan mentee harus mau kerjasama. Kalau mentor meminta revisi ya kita harus mau, biar hasil naskahnya bagus.
Oh iya, yang sangat menyenangkan itu kami dikasih mentor pribadi. Kapan pun kita bisa setor dan mendiskusikan naskah sama mentor. Mentor akan selalu menagih dan mengecek, sudah berapa banyak kita nulis 😎

Dan ternyata setiap minggu selalu ada PR. Semuanya selalu berusaha saya kerjakan tepat waktu. PR nya disesuaikan dengan materi. Misal: menuliskan 30 ide, mencari 5 buku pembanding, dll.
 Hari pertama ikut SP sudah wow! Wow materinya serasa ada lampu menyala di kepala berkali-kali. Wow juga karena langsung dikasih PR 😁
 Di bulan pertama ikut SP, kami diminta bikin masing-masing 5 judul buku dan sinopsisnya untuk diajukan ke penerbit. Alhamdulillah, 4 judul saya diminati Elex Media Komputindo.
 Ini penampakannya 😊






 Alhamdulillah perjuangan tiga bulan membuahkan hasil. Buku pertama setelah ikut SP pun terbit.
Setelah selesai naskah, kita dimasukkan ke dalam grup khusus penulis Indscript. Dan ini sangaat saya sukai.
 Di grup ini saya dapatkan apa yang selama ini hanya saya harapkan. Yaitu, info-info kebutuhan naskah dari berbagai penerbit.
 Saya pun melanjutkan menulis judul yang sudah di-ACC Elex, masih sering konsultasi sama mentor, dan buku kedua setelah SP atau buku kelima pun terbit.

 Ini penampakannya:
 



Tahun ini cita-cita saya adalah memaksimalkan blog. Blog saya: dedehsriulfah.blogspot.com jarang ditengok. Alhamdulillah terima kasih, setelah sharing di sini saya jadi dapat ide untuk menuliskan pengalaman menulis dari awal di blog saya itu.
 
Nah, jika Teman-teman berniat untuk mengikuti SP, saran saya:
1. Tekadnya harus kuat, jangan mudah menyerah.
2. Kerjakan semua PR.
3. Konsisten menulis.
4. Sering diskusi dengan mentor.
5. Minta restu suami.
  πŸ˜Š

 
Tips untuk yang mau jadi penulis:
1. Bergaul dengan sesama penulis. Gabung di komunitas menulis. Biar bisa saling menyemangati.
2. Konsisten menulis setiap hari, tidak harus panjang yang penting konsisten. Setidaknya nulis status FB yang bermanfaat.
3. Cari ilmu menulis. Dengan ilmu, semua jadi lebih mudah.
 
Oh ya sebelum saya undur diri, boleh berbagi info sedikit yaa…
Insya Allah buku terbaru kami akan segera terbit di Elex Media. Judulnya "30 Malam Bersama Nabiku". Kisah nabi yang disajikan agak berbeda, yakni secara tematis.  😊
 
Saya undur diri. Wassalamualaikum

4 komentar:

  1. Inspiratif sekali Mbak...sukses selalu yaa...Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, Mba Muyassaroh...amiin..doa yang sama juga buat Mba :)

      Hapus
  2. maasyaAllah keren mba
    mari menulis

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Pengalaman Diterapi Akupuntur, Lebih Sakit Mana: Jarum Suntik VS Jarum Akupuntur?

  sumber gambar: wub.bandung.go.id Saya sebenarnya orang yang amat takut pada jarum suntik. Saking takutnya sampai-sampai bal...