Senin, 07 Agustus 2017

EGA GAGAK YANG TERTIPU

1.       

Ega Gagak tengah terbang di atas sebuah taman. Nampaknya hari itu ia tengah beruntung karena tiba-tiba melihat sekerat keju tergeletak. Tentu saja ia terpekik senang.
 “Wow keju lezat!”
Tanpa pikir panjang ia segera menyambar keju itu dan terbang ke atas pohon yang tinggi dengan dahan rindang.
Suatu kebetulan Mumu musang tengah berjalan di taman itu dan mencium aroma keju yang sedap. Mumu celingak-celinguk sambil mengendus-endus mencari sumber aroma keju. Beberapa lama kemudian ia mendapati Ega gagak yang tengah bertengger di sebuah dahan tinggi sambil menggigil sepotong keju. Nafsu makan Mumu musang pun terbit seketika. Air liurnya nyaris meleleh.
Mumu musang yang cerdik dan licik segera membuat tipu muslihat.
Ia berkata,”Wahai gagak yang tampan, wajahmukah yang kulihat ataukah rembulan? Sungguh, alangkah indahnya suaramu saat bernyanyi. Aku terhanyut oleh nyanyianmu yang merdu. Aku harap kebaikan hatimu untuk bernyanyi agar segala risau dan gundah hilang dariku.”
Ega gagak terlena mendengar rayuan Mumu musang memabukkan. Ia pun membuka mulutnya untuk bernyanyi.
 “Lalala…!” maka kejunya lepas dari mulutnya dan terjatuh. Dengan sigap Mumu musang menangkapnya dan segera menyantapnya. Ia berkata dengan sifat aslinya.
 “Alangkah nikmatnya keju ini, tak akan kuberi yang meminta. Hai Gagak bodoh, ambil tuh pujian, aku tidak suka suaramu, aku hanya mau kejumu.”
Ega gagak hanya bisa tertegun menyadari karena tertipu pemberian berpamrih.

*** Rasulullah saw. bersabda, “sesungguhnya dunia ini indah dan mempesonakan, dan sesungguhnya Allah Ta’ala menyerahkannya pada kalian. Kemudian Allah akan melihat bagaimana kalian berbuat atas dunia ini. Maka berhati-hatilah dalam urusan dunia dan berhati-hatilah juga terhadap wanita.”

***Jangan pernah silau oleh rayuan dan pujian orang. Lebih berharga teman yang berkata apa adanya, kadang memuji namun pada kali lain mengkritik daripada teman yang selalu memuji bahkan berlebihan. Bukan tidak mungkin pujian itulah justru yang menjerumuskan kita karena kita merasa diri sempurna. Namun bukan tidak mungkin kita justru maju dengan kritikan karena kita selalu berusaha memperbaiki diri karenanya. Saat harta dunia melimpahi kita maka kewaspadaan kita harus semakin ditingkatkan, baik itu dari kejahatan diri sendiri maupun orang lain. Kejahatan diri sendiri bias berupa kesombongan dan keangkuhan sehingga kita meremehkan orang lain atau bahkan menolah kebaikan. Sementara kejahatan orang lain, bias berupa pencurian atau para penjilat di sekeliling kita, mereka hanya bias memuji dengan harapan pamrih dari kita tanpa sedikitpun menasihati kita yang akhirnya dapat membawa kehancuran karena kita berfikir semua baik-baik saja padahal potensi kehancuran sudah di depan mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Pengalaman Diterapi Akupuntur, Lebih Sakit Mana: Jarum Suntik VS Jarum Akupuntur?

  sumber gambar: wub.bandung.go.id Saya sebenarnya orang yang amat takut pada jarum suntik. Saking takutnya sampai-sampai bal...