Rabu, 03 Oktober 2018

Pengalaman Diterapi Akupuntur, Lebih Sakit Mana: Jarum Suntik VS Jarum Akupuntur?



 
sumber gambar: wub.bandung.go.id



Saya sebenarnya orang yang amat takut pada jarum suntik. Saking takutnya sampai-sampai balita saya yang menemani ke bidan saat mau di KB suntik berkomentar, “Nda jangan takut, kan ada Aa ….” Kelihatan banget bundanya ketakutan hehe ….
Lalu, bagaimana ceritanya hingga saya jadi akrab dengan jarum akupuntur?
Sebentar, pelan-pelan dulu ceritanya. Saya akan ceritakan dari awal perkenalan dengan jarum akupuntur.
Beberapa tahun yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang tetangga yang terkena struk. Dia tengah diakupuntur oleh seorang terapis. Bisa dibilang semua anggota badannya ada jarum semua. Mulai dari kepala , wajah, tangan, perut, dada, kaki. Punggungnya nanti gentian setelah perut. Bayangkan, bagaimana ngerinya saya melihat jarum-jarum panjang itu berjejer di badan sang tetangga. Satu jarus saja bikin ngeri apalagi puluhan. (Tapi kabar baiknya akhirnya tetangga saya itu sembuh dari struknya).
Tetapi, mau tak mau saya mencoba juga tusukan jarum akupuntur sang terapis. Saat itu terjadi global warming dan tubuh saya tidak kuat hingga selalu timbul bentol besar-besar di badan. Tak ada hasilnya suntikan serta obat dari dokter kulit. Akhirnya saya pun pasrah berkenalan dengan beberapa buah jarum akupuntur. Dalam hati berdoa semoga tak harus lagi berurusan sama jarum-jarum panjang mengerikan itu.
Sekitar lima tahun kemudian kami pindah rumah ke daerah Rancaekek. Di tempat baru inilah saya mulai akrab dengan jarum akupuntur. Karena, banyak teman yang ternyata memiliki keahlian akupuntur. Mulanya, suatu malah suamiku tak dapat tidur akibat dada dan punggungnya sakit (B. Sunda: jejelengakan). Saya antar suami ke rumah teman yang juga terapis. Ternyata, itu akibat angin yang sangat banyak dan lama bersarang di dalam tubuh. Tak heran, sebab meja suami di kantornya tepat di bawah AC. Alhamdulillah, setelah diakupuntur entah berapa puluh jarum sakitnya jauh berkurang.
Saat mengantar suami untuk diterapi ke dua kali, saya merasa penasaran ingin mencoba juga diakupuntur karena saat itu saya pun kurang fit. (bukan penasaran sama tusukannya tapi mupeng sama cepet sembuhnya). Apalagi saat saya tanya sakit atau nggak suami bilang lebih sakit disuntik jarum biasa. (Saya memang lupa lagi rasanya diakupuntur karena baru sekali). Tapi saat itu saya masih ada rasa takut.
Saya bilang sama terapisnya, “Teh, mau diakupuntur tapi ngeri. Coba dulu di tempat yang nggak kelihatan ya, di punggung misalnya.”
Terapisnya hanya tersenyum lalu bertanya, “Kerasa nggak, Teh?”
“Apanya yang kerasa? Memang sudah disuntiknya?” saya heran karena tak merasa apa-apa. Ternyata jarumnya sudah ditusukkan. Barulah setelah digoyang-goyang terasa agak nyetrum.
Makin Akrab dengan Jarum Akupuntur
Suatu  hari seorang teman menawarkan kerjasama untuk menulis sebuat buku dengan deadline satu bulan. Terus terang, ini tema buat saya, tapi tak mau mundur sebelum mencoba akhirnya saya menyanggupi.
Ternyata, menulis tema yang baru dengan DL ketat itu sangat menguras energi. Dua minggu mencurahkan banyak energi untuk menulis, dua minggu pula tubuh saya ambruk. Kepala terasa sangat berat, badan terasa lemas tak terkira, mulut pahit, perut amat sakit, dan dada terasa tak nyaman. Setelah beberapa hari mengonsumsi madu tapi tak kunjung sembuh, akhirnya saya minta suami untuk diakupuntur. Saya memang sangat jarang mengonsumsi obat kimia.
Teman yang juga terapis memberikan banyak nasehat bermanfaat terkait dengan penyakit saya. Setelah diakupuntur Alhamdulillah pusing berkurang, badan memiliki tenaga sedikit, dada dan perut terasa lebih nyaman. Tapi terapis bilang saya harus memaksakan diri mengonsumsi bubur meski mulut terasa pahit. Karena tubuh saya benar-benar membutuhkan nutrisi.
Setelah badan saya terasa lebih kuat, suami mengajak saya konsultasi dan terapi ke rumah sehat langganan keluarganya di daerah Cileunyi.  Alhamdulillah, saya senang sekali karena menuruti ajakan suami. Ternyata, terapisnya luar biasa. Beliau komunikatif sekali, memaparkan kondisi kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam. Tak heran jika pasiennya berdatangan dari luar daerah Bandung. Akhirnya saya memahami mengapa bisa terjadi sakit seperti ini, bagaimana penanganannya, juga makanan apa saja yang dianjurkan serta pantang dimakan. Saat terapis menyuruh diakupuntur saya dengan sukarela melakukannya.
Sejak itu kami berlangganan konsultasi dan terapi dengan beliau. Beliau memang ramah dan tak pelit ilmu, siapa pun yang konsultasi meski hanya via WA selalu dijawabnya. Kalau badan terasa kurang enak maka yang terpikir adalah sudah waktunya akupuntur. Tentu saja bukan kangen sama jarumnya, tapi ingin mendapatkan sehatnya hehe ….
Ada satu hal yang unik saat saya tinggal di Rancaekek ini. Teman-teman bahkan guru ngaji kami itu ahli akupuntur. Nah, kalau pas ngaji ada yang sakit maka tak heran jika kami ngaji sambil terpasang jarum akupuntur. Kadang juga antara peserta pengajian saling tusuk jarum akupuntur hehe …. Bahkan kalau lagi sakit pas jadwal ngaji lebih baik hadir, karena akan mendapat terapi gratis. Benar-benar pengalaman unik tak terlupakan. Pemandangan ini membuat saya makin akrab dengan jarum akupuntur.
Pengalaman Adik
            Suatu hari adik yang tinggal di rumah kami terserang penyakit typus. Kasihan sekali melihatnya, apalagi saya punya tiga krucil sehingga tak sempat merawat adik. Setelah seminggu dia terbaring lemas, makanan susah masuk dan tidur susah lelap. Saya mengajaknya untuk diterapi akupuntur. Awalnya adik menolak, dia memang sama dengan kakaknya takut sama jarum. Tapi setelah dibujuk akhirnya dia menyerah.
Adik banyak mengeluhkan sakitnya pada terapis yang direspon denegan baik dan ramah.
“Teh, nggak bisa tidur sudah beberapa hari.”
“Tenang, sekarang dikasih obat tidur,” kata terapi sambil menusukkan satu jarum di tempat yang tepat.
“Teh, sudah beberapa hari nggak bisa buang angin.”
“Yuk kita keluarin anginnya,” satu jarum lagi ditusukkan pada tempat yang pas.
“Teh, nggak enak makan udah beberapa hari.”
“Ini dikasih vitamin,” satu jarum tertancap lagi.
Begitu seterusnya. Lucunya, setiap tusukan direspon adik dengan sebuah teriakan, “Teteeeh … sini, pegangin.”
Ah, sekarang bisa ngetawain adik, dulu mah saya saya juga ketakutan lihat jarum. Bedanya, saya tak sampai jerit-jerit, Cuma bilang, “Aww …. “ sambil nyengir.
Tapi karena kondisinya yang lemah, meski menjerit-jerit tapi adik tak bisa kabur.
Selesai diakupuntur adik sudah mulai bisa tersenyum, wajahnya pun tak sepucat saat baru datang. Rasa sakitnya terbayar karena saat pulang dia sudah bisa tidur nyenyak dan mulai mau makan.
Setelah terapi akupuntur kedua kali Alhamdulillah sakit typusnya sembuh tanpa harus dirawat di rumah sakit.
Sekarang saya bisa bilang, jangan takut sama jarum akupuntur asal dilakukan oleh ahlinya. Jadi, lebih sakit mana jarum suntik atau akupuntur? Kalau menurut saya lebih sakit jarum suntik, buktinya cukup satu, tak akan mau disuntuk dua jarum apalagi puluhan seperti jarum akupuntur hehe …
Oh iya sekedar tips sedikit bagi yang ingin mulai mencoba terapi akupuntur:
ΓΌ  Berpikir positif
Akupuntur merupakan terapi yang sudah terbukti bisa dipertanggungjawabkan, jadi jangan takut. Sebelum diakupuntur niatkan untuk berikhtiar mendapatkan kesehatan.
ΓΌ  Pilih terapis yang benar-benar ahli
Jarum akupuntur ditusukkan pada tempat tertentu sesuai kondisi pasien. Karena itu, Anda harus memastikan bahwa sang terapis benar-benar ahli akupuntur artinya sangat memahami titik-titik akupuntur.
ΓΌ  Tenang dan posisi nyaman
Berbeda dengan jarum suntik yang setelah ditusukkan langsung dicabut lagi, jarum akupuntur akan disimpan dulu selama beberapa puluh menit sesuai kebutuhan. Karena lamanya itulah maka Anda harus merasa tenang dan berada pada posisi nyaman. Anda tak bisa minta tiba-tiba cabut jarum saat merasa pegal, karena hal itu bisa berakibat fatal. Misalnya, tiga puluh menit itu untuk menguatkan organ tertentu, sedangkan dua puluh menit itu untuk melemahkannya.
ΓΌ  Jika ada rasa pegal atau nyetrum
Sebenarnya, saat jarum ditusukkan bisa jadi kita tak merasakan apa-apa tapi bisa juga ada rasa nyetrum atau pegal. Biasanya terapis akan menggoyang-goyang jarum hingga terasa nyetrum atau pegal. Jangan khawatir, justru itu bagus karena artinya jarum itu sudah pas menyentuh titik saraf yang badaan Anda butuhkan.

Apa lagi ya? Itu dulu saja ya … Jika Anda punya pengalaman berkaitan dengan akupuntur, mari sharing di kolom komentar. Semoga tulisan kita akan bermanfaat bagi banyak orang. J

Jumat, 07 September 2018

Aktualisasi Diri Ibu Rumah Tangga Bersama ASUS



             
Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup adalah memiliki ayah yang sangat mencintai buku. Tinggal di kampung dan pendidikan formal tidak tinggi, tidak menghalangi beliau untuk benyak membaca buku dan berlangganan koran. Beliau pun memenuhi dinding rumah kami dengan buku-buku koleksinya. Maka tak heran jika kemudian saya dan adik-adik menjadi akrab dengan buku sejak kecil.
Akrab dengan buku membuat saya memiliki cita-cita menjadi seorang penulis. Pasti bangga sekali jika suatu saat nama saya tercetak pada sampul buku dan dipajang di rumah kami. Saat itu saya sama sekali tak punya gambaran bagaimana cara mewujudkan impian tersebut.
Saat SMU tulisan pertama saya terbit di majalah berbahasa Sunda, Mangle. Meski hanya tuisan sederhana tapi rasanya bahagia tidak terkira. Mesin tik jadul bekas Bibi (adik Ayah) menjadi andalan saya untuk menulis saat itu.
Saat kuliah saya masih menggenggam cita-cita untuk menjadi penulis. Sering sekali saya mengikuti pelatihan menulis baik yang diselenggarakan di kampus mau pun luar kampus. Saat itu mulai banyak rental computer, tetapi saya masih setia dengan mesin tik jadul.
Dua bulan setelah diwisuda, tepatnya 25 Desember 2003 saya berganti status menjadi seorang istri. Suami meminta saya untuk tidak bekerja di luar rumah. Dengan suka rela saya menyetujuinya. Di samping alasan karena cinta, saya pun sudah memiliki rencana untuk diwujudkan. Saat itu saya yakin, cita-cita menjadi penulis akan terwujud jika saya menjadi ibu rumah tangga. Menulis akan menjadi sarana aktualisasi diri serta mengamalkan ilmu hasil kuliah.
Rupanya Allah menjodohkan saya dengan seorang yang memiliki cita-cita sebagai penulis pula. Saat bayi kami lahir, lahir pula buku pertama suami. Ini momen yang luar biasa buat saya. Saya merasa mendapat motivasi yang kuat untuk mewujudkan mimpi menjdi penulis. Berbekal komputer suami, saya pun mulai melangkah untuk mewujudkan mimpi dengan menulis naskah buku.
Saya menulis saat bayi tidur dan suami di kantor sehingga komputernya nganggur. Sedikit-demi sedikit hingga tuntas berbulan-bulan kemudian. Terus terang, saya hanya punya modal nekad. Tak ada mentor untuk bertanya apakah naskah ini layak terbit atau tidak. Untuk meningkatkan kepercayaan diri, saya mengajak seorang sahabat untuk bergabung. Kami, dua orang ibu rumah tangga mengetuk pintu penerbit mayor dengan modal nekat. Alhamdulillah, akhirnya berbuah manis, naskah kami terbit setahun kemudian setelah melewati masa revisi yang berdarah-darah.
            Setahun kemudian, seorang teman menawariku untuk bergabung mengerjakan sebuah proyek buku anak. Sebenarnya, saya merasa berat untuk menerima tawaran ini. Disamping deadline yang ketat, saat itu kami tidak memiliki komputer.
            Setelah berdiskusi dengan suami, beliau ternyata mendukung saya untuk mengambil tawaran ini. Beliau bersedia mengasuh kedua anak kami saat saya menyelesaikan tulisan. Untuk mengerjakan proyek ini kami sampai menyewa angkot untuk mengambil komputer dari tempat kost adik. Alhamdulillah, saya merasa amat bersyukur karena suami sangat mendukung cita-cita istrinya.
            Tahun 2011 saya merasa sudah saatnya memiliki laptop pribadi. Rasanya tak enak terus-terusan menggunakan laptop punya suami. Di samping karena waktu menulis menjadi sangat terbatas bergantung suami ada di rumah dan laptop nganggur. Sayang sekali kalau banyak ide yang akhirnya terlupakan. Rupanya suami sudah menilai kesungguhan saya dalam dunia menulis. Sehingga tanpa banyak bicara suami langsung setuju dan kami mulai mencari informasi seputar laptop.
            Kami sepakat untuk memesan pada seorang teman yang mengerti seluk beluk laptop. Dia bertanya ingin merk apa, budget berapa, dan kebutuhannya apa saja. Saya sebut budgetnya sekian, ada pun mengenai merk dan spesifikasinya saya percayakan sepenuhnya pada dia. Saya bilang, “Saya butuh laptop untuk menulis buku, minta yang awet karena terus terang saya bisa dibilang buta sama urusan membetulkan laptop”. Saya pun minta yang ringan, supaya ringan membawanya saat harus bepergian. 
            Setelah beberapa kali diskusi akhirnya disepakati bahwa kami memesan notebook ASUS. Teman kami menjelaskan keunggulan notebook ini dan kami mempercayainya. Dia bilang notebook ASUS itu awet dan tidak rewel. Dan memang terbukti, hingga saat ini notebook ASUS ini sudah tujuh tahun menemaniku dan masih nyaman dipakai.

Menulis di notebook ASUS sambil mengasuk si Kecil 

Selama tujuh tahun ini, notebook ini hanya pernah diservis dua kali. Sekali karena layarnya bergerak-gerak yang kedua karena keypadnya tidak bisa digunakan. Karena dipukul-pukul balita. Maklumlah, saya ngetiksambil ngasuh J.  Chargernya pun awet, saya tak pernah menggantinya, hanya pernah diservis satu kali saja. Saya pikir ASUS ini termasuk bandel, mengingat saya punya empat krucil yang selalu mau nimbrung. Namanya juga Emak-emak, selain berfungsi untuk menulis, notebook ini berfungsi untuk menonton film kartun oleh anak-anak. Kadang mereka sampai rebutan hingga tak aneh notebook ini kadang kedudukin atau terjatuh saat rebutan. Hal yang dikeluhkan anak-anak dengan notebook ini karena layarnya kecil dan tidak ada CD room saja. 
Syukurlah saat itu tiga buku sudah terbit, berarti impian sejak masa kecil untuk menjadi penulis telah mulai tercapai. Tapi entah mengapa saya merasa belum merasa pantas untuk disebut penulis. Rasanya saya sangat membutuhkan ilmu, mentor, serta komunitas penyemangat menulis.
Rupanya, harapan saya terjawab dengan dilaunchingnya Sekolah Perempuan. Begitu membaca informasinya, saya langsung bertanya banyak hal pada sang founder, Teh Indari Mastuti. Setelah itu saya komunikasikan pada suami dan kami sepakat bahwa ini yang saya butuhkan. Saya pun mendaftar menjadi peserta Sekolah Perempuan angkatan pertama. Suami mendukung dengan dana dan tenaganya, beliau setiap Sabtu selama 12 minggu mengasuh tiga anak kami di rumah, Saya amat sangat bersyukur atas kebaikan hatinya.

Bersama teman-teman Sekolah Perempuan

Salah satu syarat mengikuti sekolah perempuan adalah memiliki laptop dan membawanya saat belajar. Maka selama 12 pertemuan notebook ASUS ini saya bawa bersama perlengkapan lainnya, naik turun angkutan umum. Untunglah notenya ringan hingga tubuh mungil saya tak terlalu terbebani. Notebook ASUS ini pula yang saya gunakan menulis setiap menjelang subuh untuk mengejar target satu naskah selama mengikuti program Sekolah Perempuan. Alhamdulillah, target tercapai tepat waktu dan beberapa bulan kemudian bukunya terbit di Elex Media Komputindo.
Buku yang terbit setelah mengikuti Sekolah Perembuan

Mengikuti Sekolah Perempuan ternyata benar-benar mewujudkan impian saya, memiliki mentor, komunitas menulis, ilmu menulis, hingga jaringan ke penerbit. Meski di rumah saja, saya masih tetap berkarya. Hingga saat ini belasan buku solo ditambah buku antologi telah berhasil saya tulis dan diterbitkan. Bukan hanya menulis buku, saya pun merambah menjadi penulis konten serta blogger.
Saya pikir sudah saatnya mengganti laptop dengan yang memiliki layar lebih lebar. Akhir-akhir ini mata sering terasa sepet dan pandangan memburam. Pasti ini karena terlalu sering membaca novel serta menulis di notebook yang layarnya kecil. Tapi tetap saya ingin nyari yang agak ringan saat ditenteng.
Kemarin sudah nyari-nyari informasi seputar laptop ASUS, (karena sudah terlanjur suka ASUS J) dan membaca spesifikasinya, rasanya saya menyukai laptop ASUS Vivobook Flip TP410. Ini alasan saya menyukai laptop ASUS VVivobook Flip TP410:
Sumber gambar: www.asus.comLaptop ASUS Vivobook Flip TP410 incaranku

1.   
Tipis dan ringan
Laptop ASUS Vivobook Flip TP410 ini tipis dan ringan. Laptop berukuran 14 inci ini tebalnya hanya 1,92cm dan berat 1,6kg, ringan sekali kan?
Cocok banget buat saya yang nggak kuat lama menggendong laptop yang berat, bikin sakit pundak. Apalagi Emak-emak kemana pun pergi pasti membawa banyak perlengkapan krucil.

2.    Nyaman untuk mengetik
Vivobook 14 ini sangat sangat nyaman buat ngetik, ini penting banget buat seorang penulis yang sering dikejar deadline seperti saya. Selain itu dilengkapi tombol backlit yang memiliki control cahaya sekitar. Ini solusi bagus jika sesekali lampu mati atau penerangan kurang bagus saya bisa tetap bisa produktif.

Baterai Awet
Suka ribet kan ya kalau lagi seru-serunya menulis tiba-tiba baterai habis, mesti nyari dulu charger yang kadang lupa nyimpan karena dimainkan krucil di rumah. Khawatir ide keburu menghiang. Nah, Laptop ASUS Vivobook Flip ini jika diisi penuh maka dapat bertahan seharian. Dan teknologi ASUS Battery Health Charging akan membantu melindungi baterai kita saat diisi ulang.

NanoEdge Display
ASUS Vivobook Flip TP410 berfitur nanoedge yang amat canggih. Hal ini tentu akan mendukung saya untuk bekerja lebih kreatif. Sekarang kan penulis juga dituntut untuk lebih kreatif ya.

5.    Bisa jadi empat mode
ASUS Vivobook Flip TP410 ini bisa didisplaiy menjadi 4 mode yaitu media stand, powerful laptop, responsive tablet dan share viewer. Kalau pas bedah buku bawa laptop ini, pakai dengan mode media stand atau share viewer, pasti keren banget kelihatannya. Nggak akan ada yang mengira sehari-hari kerjanya memakai daster hehe ….
Sumber gambar: www.asus.com
mode shared viewer yang keren banget buat presentasi


6.    Fingerprint Sensor.
ASUS Vivobook Flip TP410 sudah dilengkapi dengan fingerprint sensor. Ini sangat baik untuk keamanan. Karena, saya tak perlu lagi kata sandi yang mungkin bisa diretas hacker, cukup sentuhkan jari maka akses vivobook Flip terbuka. Sidik jari tak bisa ditiru kan?
Sumber gambar: www.asus.com
Laptop canggih yang akan bikin makin produktif


Doakan yaa semoga saya segera mendapat rejeki untuk memiliki laptop ASUS Vivobook Flip TP410 yang menggiurkan ini. Mata saya yang mulai minus banyak ini tentu akan lebih nyaman mengetik di laptop ASUS Vivobook Flip TP410, sehingga akan semakin produktif menulis. Kalian juga tertarik kan?

Artikel ini disertakan dalam lomba blog ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com

Lomba blog ASUS





             
             


Minggu, 02 September 2018

Masakan Super Simpel dan Cepat


sumber gambar: pixabay.com


Punya empat balita tanpa ART itu luar biasa. Tiap subuh saya berjibaku di dapur untuk menyiapkan sarapan keluarga dan bekal sekolah anak-anak. Saya punya beberapa resep simpel dan cepat jika sewaktu-waktu diperlukan. Maklumlah kadang ada hal-hal di luar prediksi. Apakah anak yang tak mau makan makanan yang dihidangkan, saya bangun kesiangan, atau pun karena saya tak sempat masak tapi sudah terlalu lapar karena bayi ngASI terus.

Meski simpel dan cepat, tapi jangan sampai asal menyediakan makanan tapi kurang bergizi, mie instant misalnya. Saya agak streng untuk urusan ini. Makan mie instant paling sering seminggu sekali saja. Baiklah, saat ini saya ingin berbagi resep simpel dan cepat untuk Anda. Semoga bermanfaat.

1. Omelet keju

Telur ceplok yang sangat simpel itu masuk alternatif terakhir untuk dimasak. Masakan berbahan dasar telur yang sangat disukai anak-anak ini mudah sekali membuatnya tapi lezat.

Siapkan beberapa butir telur sesuai keinginan, kocok dan beri garam, merica, serta keju dipotong kecil-kecil. Panaskan margarin dan masukkan telur. Bikin tebal supaya lebih lezat. Bolak-balik supaya tak ada yang gosong. Setelah matang angkat dan sajikan hangat-hangat.

2. Ayam balut tepung

Nah, ini bekal favorit anak-anak. Tak hanya lezat dimakan saat hangat tapi saat dingin pun masih tetap enak. Dibekalin sebanyak apa pun pasti habis. Dibuatin sehari tiga kali pun mereka tetap lahap.

Cara membuatnya mudah: ayam fillet dipotong kotak kecil-kecil. Lumuri dengan garam dan merica. Diamkan beberapa saat hingga bumbu meresap.

Setelah bumbu meresap masukan tepung terigu dan tepung beras pada ayam, aduk-aduk dan beri air sedikit saja. Lalu goreng dengan api sedang hingga kecoklatan.

3. Pecel praktis

Nah, kalau ini resep simpel buat Emaknya. Meski simpel tapi bikin nikmat, apalagi kalau ditambah pindang bandeng.
Bahan yang dibutuhkan: kol, waluh, kacang panjang semua dipotong kecil-kecil, bayam dipetik, serta tauge. Kukus semua hingga matang. Lalu siapkan bumbu pecel instant dan beri air panas. Tata sayuran di piring dan campurkan bumbu pecel pada sayuran. Siap dimakan.

4. Tuum asin cumi

Masakan ini dijamin bikin makan terasa nikmat. Setidaknya, itulah yang saya rasakan. Apalagi kalau makannya botram, waah nambah nasi teruus.

Cara bikinnya pun simpel dan cepat. Cuci asin cumi dan goreng sebentar. Sisihkan lalu masukkan ke dalam wadah tahan panas. Siapkan cabe, tomat, bawang merah, bawang putih, bawang daun. Potong kecil-kecil dan masukan bersama asin cumi, beri garam sedikit aja, dan beri gula putih lalu aduk sebentar. Kukus sekitar 15 menit. Setelah matang asin cumi yang nikmat siap disantap.

Ini dulu ya resep super simpel dan cepatnya. Insya Allah lain kali disambung lagi. Sekarang gantian kalian yang berbagi resep ya di kolom komentar. Ditunggu yaa... Terima kasih https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f4c/1/16/1f642.png:)






Mendulang Manfaat dari Membacakan Cerita Keteladanan

sumber gambar: dokumen pribadi
Anak-anak selalu suka dibacakan buku cerita oleh orang tuanya. Ternyata dibalik asyiknya kegiatan bercerita ini, terdapat segudang manfaat baik untuk anak maupun untuk orang tua.  
***
Suatu hari Wafa tiba-tiba berkata, “Bunda, Kakak mau diganti dong namanya.” Aku agak kaget mendengarnya karena berpikir ada yang mengejek, mengingat namanya terdengar agak seperti anak perempuan. Sebenarnya nama panjangnya Mujahid Dhiyaul Wafa, sangat laki-laki. Tapi aku tekan prasangkaku dan menanggapinya dengan santai. “Lho kenapa mau diganti? Memangnya Kakak mau diganti namanya jadi apa?” Sulungku menjawab mantap, “Aku mau namanya jadi Daud, seperti Nabi Daud.” Hatiku mulai tenang mendengar jawabannya. “Oh, Kakak mau diganti jadi Daud ya? Kenapa mau diganti jadi Daud?” selidikku sambil tersenyum. “Iya, karena kan Nabi Daud itu aku baca hebat sekali. Masih kecil juga sudah berani mengalahkan Raja Zalut yang seperti raksasa.”
Sekarang aku paham masalahnya. Akhir-akhir ini Sulungku itu memang tengah senang-senangnya membaca buku kisah nabi-nabi. Sementara adik-adiknya suka melihat-lihat gambarnya, dan sesekali minta kakak mereka membacakannya. Hatiku menghangat karena bahagia. Putraku mulai mengidolakan nabinya. Semoga setelah ia banyak membaca kisah keteladanan tokoh Islam, semakin banyak pula tokoh Islam yang ia idolakan. Aku berharap, jika ia mengidolakan banyak tokoh Islam, ia akan lebih mudah menjadi anak yang saleh.
Mendidik anak melalui cerita bukanlah hal yang asing dalam agama Islam. Allah Swt. dalam Al Quran banyak sekali menggunakan cerita untuk mengajarkan sesuatu kepada kita. Bahkan sebuah surat Al Quran dinamakan surat Al Qashash artinya kisah-kisah. Rasulullah Saw. pun kadang menjelaskan sesuatu kepada para sahabat dengan menggunakan cerita. Berdasarkan fakta demikian, maka alangkah baiknya jika orang tua dapat memanfaatkan cerita keteladanan untuk mendidik buah hati tanpa terasa menggurui.  
 Bila diperhatikan dengan jeli ternyata membacakan cerita keteladanan dapat memberikan banyak hal bagi pendidikan anak, diantaranya adalah:
1.      Mengembangkan imajinasi dan fantasi anak.
Saat sebuah buku cerita dibacakan, maka saat itu imajinasi dan fantasi anak akan bekerja. Ia mungkin mengira-ngira tokoh ceritanya memakai baju apa atau wajahnya bagaimana. Jika sang tokoh ada di suatu tempat, anak akan membayangkan kira-kira tempatnya seperti apa, ada apa saja di sana, samakah sebuah taman bermain tempat tokoh itu bermain dengan taman bermain yang ia kunjungi, dan lain sebagainya. Semakin sering seorang anak dibacakan atau membaca buku cerita, maka akan semakin berkembang pula imajinasi dan fantasinya.
Inilah jawaban mengapa membaca atau dibacakan buku berbeda dengan jika anak menonton film. Saat menonton film, semua sudah digambarkan dengan jelas sehingga tidak ada kesempatan bagi anak untuk mengembangkan imajinasi dan fantasinya.
2.      Mengasah kepekaan emosi anak dengan diajak menghayati dan merasakan berbagai perasaan yang dialami oleh tokoh dalam cerita.
Orang tua dapat memanfaatkan cerita untuk mengasah kepekaan anak, misalnya saat membacakan kisah Nabi Ayyub as. yang ditimpa musibah terus menerus. Setelah bercerita, eksplorasi perasaan anak kira-kira bagaimana perasaannya jika ia dalam posisi Nabi Ayyub.
3.      Memupuk minat baca anak karena anak akan melihat bahwa dalam buku itu ada sesuatu yang menarik.
Jika seorang anak sering dibacakan buku, lama-lama ia akan mengerti bahwa di dalam buku itu ada sesuatu yang menarik. Sehingga ia akan minta lagi dan lagi untuk dibacakan buku. Lama-lama ia berpikir, jika aku bisa membaca buku sendiri pasti akan lebih menyenangkan. Setelah bisa membaca, ia akan mencari buku lagi dan lagi untuk memuaskan minat bacaanya yang semakin meningkat.
4.      Meningkatkan kreativitas dan kekritisan anak dengan merangsang anak untuk berfikir serta memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anak mengenai cerita.  
5.      Meningkatkan hubungan emosional antara anak dengan orang yang bercerita terutama orang tua karena ketika bercerita itu terjadi kontak batin dan dampak positif paling penting dari kontak batin ini adalah orang tua merasa didengar dan diperhatikan dan anak merasa disayangi. Bercerita sebagai salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjalin komunikasi dalam pendidikan anak pada hakikatnya bukanlah bercerita untuk anak melainkan bercerita bersama anak artinya anak dilibatkan.
6.      Membina akhlak anak karena dia akan memperoleh contoh-contoh perilaku yang baik dan buruk serta akibat yang ditimbulkannya, sehingga dia bisa menentukan pilihan mana yang harus dia pergunakan dan mana yang harus dijauhi.
Inilah inti yang kita harapkan dari membacakan cerita keteladanan pada anak. Akan tetapi orang tua jangan terjebak untuk menjejalkan nilai-nilai yang banyak sehingga terkesan menggurui dan anak malah tidak merasa senang.
7.      Mengembangkan daya analisis anak karena ketika mendengarkan cerita itu anak menganalisis permasalahan dan juga menyerap nilai-nilai mengenai realitas kehidupan yang sebelumnya tidak mereka ketahui.
Setelah mengetahui demikian banyaknya manfaat cerita keteladanan dalam pendidikan anak, semoga kita bisa konsisten membacakan cerita keteladanan bersama si Kecil. Sebagian orang tua mungkin merasa dirinya bukan seorang pencerita yang baik, tapi kasih sayang orang tua untuk anaknya akan berkata lain. Ia akan dapat memunculkan kreativitas untuk bercerita demi kebahagiaan anak yang berarti membahagiakan diri sendiri juga. Karena selain memenuhi keingintahuan anak, terpenuhi juga kebutuhan lain seperti kebutuhan dicintai, rasa aman, dihargai juga aktualisasi diri.

Semoga bermanfaat.

Kudapan Tradisional Berbahan Dasar Singkong

Sumber gambar: pixabay.com
 
Tahu tidak bahwa kudapan tradisional itu enak-enak bahkan banyak yang enak banget? Pokoknya nggak usah nyoba kalau takut ketagihan.

Jenisnya pun buanyak sekali. Dari satu bahan dasar saja bisa jadi beberapa jenis kudapan lezat, baik bercitarasa manis atau pun asin.

Dari bahan dasar singkong misalnya, bisa dibuat getuk, kolak, katimus, cimpring, urap singkong, combro, singkong goreng keju, combring, misro, bolu singkong, dan sebagainya.

Jadi, kalau Anda punya singkong bagus, jangan bingung membuat kudapan, pilih saja salah satu resep termudah.

Berikut ini kudapan berbahan dasar singkong kesukaan saya, mungkin Anda pun menyukainya:

1. Getuk


Nah, ini kudapan favorit saya waktu hamil. Rasanya manis gurih dan mengenyangkan. Cocok banget buat bumil pokoknya.

Ternyata, cara membuatnya tidak terlalu sulit. Resepnya saya dapat dari seorang teman yang baik hati.

Cara membuatnya: singkong manihot dikupas, cuci, dan kukus hingga matang. Lalu ditumbuk hingga halus. Tambahkan gula aren yang sudah dihancurkan serta parutan kelapa. Aduk-aduk hingga semua bahan tercampur rata. Kemudian dipadatkan dan dipipihkan dengan ketebalan sekitar 2 cm, lalu potong koyak-kotak. Taburi parutan kelapa dan siap dihidangkan. πŸ˜‹ πŸ˜‹

Ternyata sekarang getuk sudah dijual di toko kue-kue basah terkenal. Jadi Anda tidak harus bersusah payah lagi untuk mencarinya.

2. Combro

Jika getuk bercitarasa manis maka combro ini bercitarasa asin. Rasanya pun tak kalah lezat.

Yang perlu Anda sediakan adalah singkong kualitas bagus dan oncom. Singkong yang sudah bersih diparut lalu diperas, air perasannya disimpan di wadah hingga kanjinya terpisah di dasar wadah. Oncom dihancurkan dan diberi bumbu sesuai selera. Singkong parut diberi bumbu garam, merica, bawang putih, dan penyedap kalau mau. Ambil kanji yang di dasar baskom, campurkan pada parutan singkong, aduk hingga rata.

Ambil sekepal adonan singkong dan buat bulatan. Ambil oncom dan masukan ke dalam bulatan singkong. Lakukan hingga adonan habis. Lalu goreng dengan api sedang. Sajikan hangat dengan rawit atau saos botol. πŸ˜‹ πŸ˜‹

Anak-anak kami paling suka combro bikinan Bundanya. Entahlah, mungkin karena dimakan panas-panas jadi terasa lebih nikmat. Pernah, anak nomor dua hanya mau makan sama combro bikinan Bunda. Dia bahkan rela menunggui Bundanya bikin dulu dari pada makan yang lain. J

3. Kolak singkong

Kolak singkong mudah sekali membuatnya. Tapi saya punya sedikit resep berbeda. Untuk membuat kolak sebaiknya gunakan singkong manihot agar hasilnya mantap.

Cara membuatnya: singkong dikupas, dicuci, dan potong kecil-kecil. Rebus singkong hingga empuk dan diaduk sambil ditekan-tekan hingga singkong hampir hancur masukan gula aren. Kolak singkong yang hampir hancur akan terasa seperti ada tepung kanjinya. Itu yang membuatnya terasa yummy. πŸ˜‹ πŸ˜‹

Ini tiga resep dari singkong favorit saya. Apakah Anda menyukainya juga? Atau Anda punya resep lain dari singkong? Berbagi yuk, siapa tahu bermanfaat. 😊 😊 😊

 



Kota Impian yang Ingin Saya Kunjungi, Mekah dan Madinah


sumber gambar: pixabay.com


Kampung halaman yang di sana keluarga tercintaku berada adalah tempat yang selalu ingin kukunjungi. Meski serba sederhana, meski banyak keterbatasan, tetapi di sana tersedia banyak cinta tulus yang menghangatkan hati. Tak cukup rasanya berkunjung hanya seminggu saja saat libur lebaran. Kalau bisa ingin setiap bulan bisa mudik.

Selain itu, saya pun punya kota impian yang sangat ingin dikunjungi minimal sekali seumur hidup, syukur-syukur bisa lebih sering lagi. Tempat isrimewa yang didamba seluruh kaum muslim di dunia, Mekah dan Madinah.

Kota Tempat Tinggal Nabi

Saat membaca kisah Nabi Muhammad dan para sahabat, saya seringkali hanyut dan tak terasa meneteskan air mata. Kehidupan mereka sungguh sering terasa sangat istimewa. Rasa persaudaraan yang lekat, saling menyayangi, kerelaan berkorban untuk tegaknya agama Allah, kecintaan pada sesama, dan sebagainya seringkali menyentuh hari. Saat membacaya saya berpikir alangkah agungnya mereka, alangkah bahagianya menjadi bagian dari mereka, dan alangkah inginnya menyaksikan sendiri jejak kehidupan luar biasa mereka.

Saya ingin menyentuh apa yang pernah Nabi sentuh, menjejakkan kaki di tempat beliau pernah berpijak, melihat langsung baju atau peralatan yang biasa beliau pakai, melihat tempat bekas rumah beliau, thawaf di tempat beliau selalu bermunajat.

Jika kuat ingin pula melihat gua Hira tempat Nabi bertahanus, gua Tsur tempat beliau bersembunyi bersama Abu Bakar, dan banyak lagi tempat bersejarah yang ingin saya kunjungi di dua kota istimewa tersebut.

Begitu istimewanya Mekah dan Madinah hingga saya memimpikan suatu hari nanti saya ibadah haji atau umroh dan disambut anak yang kuliah di salah satu kota suci tersebut. Ah, tentu menyenangkan sekali. Ya, kami sering membahas kemungkinan mereka kuliah di Ummul Quro Mekah atau di Universitas Madinah. Semoga Allah mengabulkan impian ini.

Apakah Anda juga memiliki kota istimewa impian yang sangat ingin dikunjungi? Apa yang Anda lakukan untuk mewujudkan impian tersebut? Tak ada yang mustahil bagi Allah untuk mewujudkan impian kita yang tampak mustahil sekalipun. Yang petlu kita lakukan hanya menyempurnakan ikhtiar dan dia. Ingat, tak ada langkah ke sejuta tanpa ada langkah pertama. Jadi, mari mulai langkah pertama kita menuju kota impian, tanpa tapi dan tanpa tapi.

Untuk saya sendiri atau mungkin Anda juga sama, inilah yang harus dilakukan untuk menjemput mimpi ke kota impian:

1. Persiapan Dana

Jika Anda memiliki dana yang cukup, tentu tidak masalah kapan pun ingin mengunjungi kota impian. Tetapi, pada umumnya mengunjungi kota impian memerlukan dana yang relatif cukup besar, baik itu untuk transfortasi, akomodasi, serta oleh-oleh.

Adapun untuk umroh atau mengunjungi kota Mekah dan Madinah seperti impianku, setidaknya membutuhkan dana 30 juta untuk satu orang. Karena itulah menabung merupakan hal yang wajib dilakukan untuk mewujudkannya.

2. Persiapan Fisik

Saat mengunjungi kota impian, tentu kita tak mau malah sakit atau kelelahan hingga menghabiskan waktu di penginapan. Rugi banget yah. Karena itu, menjaga fisik agar kuat dan sehat itu wajib hukumnya.

Thawaf misalnya, untuk satu kali thawaf setidaknya kita harus berjalan mengelilingi ka'bah sepanjang minimal 3,5 km. Jaraknya bisa lebih panjang lagi jika kita berjalan lebih jauh lagi dari ka'bah. Itu baru thawaf. Belum lagi jalan untuk sa'i, bolak-balik penginapan - masjid - penginapan, dan sebagainya.

3. Persiapan Lain-lain

Untuk ibu yang memiliki anak apalagi masih balita seperti saya, ada persiapan lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana menitipkan mereka.

Saya percaya suami dapat mengurus anak-anak dengan baik selama saya umroh. Beliau ayah yang sangat baik dan anak-anak pun lengket padanya. Tetapi masalahnya, beliau harus berangkat ke kantor. Tentu dibutuhkan orang yang dapat menjaga anak-anak kami. Hal ini lumayan menguras pikiran juga mengingat setiap hari saya bersama mereka di rumah.

Sebenarnya, kalau mau ditulis semua dan detail, daftar persiapannya akan sangat panjang untuk mewujudkan mengunjungi kota impian. Apa persiapan Anda untuk mengunjungi kota impian?






Antara Anak, Televisi, dan Buku


gambar: dokumen pribadi

Bulan Ramadhan kemarin kami memutuskan untuk memiliki televisi setelah bertahun-tahun tidak memilikinya. tentunya setelah melalui berbagai pertimbangan yang banyak. Meski begitu, ternyata tetap saya menyesali keputusan ini. Biasanya, saat waktu luang di rumah ini akan dijumpai anak-anak yang membaca buku atau main bersama. Sekarang, susah sekali meminta mereka untuk membaca buku dan lebih memilih enonton televisi.

Saat pulang sekolah biasanya anak-anak akan mencariku, bermanja, lalu minta diceritakan sebuah dongeng lucu pengusir lelah mereka. Sekarang, pulang sekolah mereka duduk di depan televisi dan menonton. Terus terang saya merasa kehilangan.

Bertahun-tahun rumah tanpa televisi membuat kami menyadari kebaikan rumah tanpa televisi, antara lain:   

LEBIH BANYAK WAKTU BERKUMPUL BERSAMA KELUARGA
Saat ada televise, biasanya keluarga hanya berkumpul secara fisik, pikirannya focus pada acara TV. Nah, karena tidak ada pengalih berupa TV, jadi saat berkumpul keluarga menjadi ramai. Bisa ngobrol kesana kemari, berdiskusi, bercanda ria, main teka, teki dan sebagainya.

2.      LEBIH SUKA MEMBACA BUKU
Sebenarnya, anak-anak kami terutama si Sulung sudah suka membaca. Sehari ia bisa menamatkan beberapa buku novel saat libur. Tapi saat ada televise, waktu untuk membacanya jauh berkurang. Tergantikan dengan waktu untuk meonton televisi. Benar saja, setelah tak ada TV, mereka kembali banyak membaca buku.

3.      WAKTU MENONTON LEBIH MUDAH DIATUR
Saat ini TV tayang 24 jam sehingga kapan pun mereka mau bisa menonton. Ini jelas tidak bagus untuk membangun kedisiplinan. Tanpa TV, waktu anak-anak tidak diatur jadwal menonton. Orang tua pun bisa menjadikan menonton di laptop sebagai reward saat mendisiplinkan anak.

4.      ANAK MALAS BERPIKIR
Televisi banyak menyajikan tontonan menarik yang tidak menuntut anak untuk berpikir. Warna-warna menariknya membuat mereka selalu ingin menontonnya lagi dan lagi. Hal itu membuat anak mudah bosan saat berhadapan dengan buku yang membuat mereka harus berpikir. Apalagi buku pelajaran yang sedikit sekali menyajikan gambar menarik.

Bukankah anak-anak pun perlu mendapatkan kegiatan menarik dan hiburan untuk menyenangkan mereka?

Tentu saja anak pun bisa mendapatkan hiburan dan kegiatan menarik meski tanpa televisi, yakni dari buku-buku yang menarik. Anda harus mengetahui bagaimana buku yang menarik untuk anak kecil. Antara lain: menggunakan bahasa sesuai usia anak, memiliki gambar yang lebih banyak dari pada tulisan, memiliki tulisan yang sedikit, memiliki warna yang cerah dan menarik, dan tidak mudah sobek.

 Buku Balita Berakhlak Mulia dari Sygma Daya Insani misalnya. Buku ini berisi cerita seputar akhlak Nabi Muhammad dengan bahasa yang mudah dipahami anak kecil. Warna dan gambarnya menarik serta tulisan yang sedikit. Yang tak kalah pentingnya, buku ini berbentuk boardbook, yakni tebal sehingga tidak akan bisa disobek oleh anak.

Anak-anak kami sangat menyukai buku boardbook milik mereka. Mereka bukan hanya membaca, tetapi juga bermain dengan bukunya. Menjadikannya mobil-mobilan, kereta api, menumpuknya seperti gedung tinggi, menjadikannya dinding rumah-rumahan dan sebagainya. Tak apa, justru itu membuat mereka lebih mudah akrab dengan buku.

Buku boardbook membuat orangtua tak perlu khawatir bukunya akan disobek anak, karena sangat tebal. Jika kotor atau kena air pun mudah dibersihkan.

Jangan lupa Ayah Bunda, membuat anak akrab dan mencintai buku itu lebih penting dan lebih sulit dari pada membuat anak menguasai keterampilan membaca.

 Semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan manfaat. 



Pengalaman Diterapi Akupuntur, Lebih Sakit Mana: Jarum Suntik VS Jarum Akupuntur?

  sumber gambar: wub.bandung.go.id Saya sebenarnya orang yang amat takut pada jarum suntik. Saking takutnya sampai-sampai bal...