Jumat, 26 Januari 2018

Cara Rasulullah Memotong Lidah Tukang Fitnah



 
Tak seorang pun yang menyukai jika mengetahui dirinya difitnah, termasuk Rasulullah.  Tapi Rasulullah punya cara yang ampuh untuk menghentikan si tukang fitnah.
***
Berkembang pesatnya media sosial di dunia maya saat ini punya dua sisi. Sisi positifnya banyak, sisi negatifnya pun tak kalah banyak. Positifnya, dunia maya membuat kita bisa bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah lama kehilangan kontak. Di dunia maya juga kita bisa memiliki banyak teman dan bergaul dengan berbagai kalangan. Kita bisa belajar dan berbagi banyak hal yang bermanfaat.
Namun sisi negatifnya juga banyak. Kemudahan untuk berbagi apa saja kadang membuat kita tidak selektif sehingga ikut membagikan informasi yang belum tentu benar. Membicarakan keburukan tokoh Fulan atau pejabat Fulanah tanpa tedeng aling-aling lagi. Aib diumbar dan fitnah mudah sekali menyebar. Bukan tidak mungkin kita pun pernah menjadi korban difitnah oleh orang lain. 
Jika menjadi korban fitnah apa yang akan Anda lakukan? Membalas? Ya, kita memang boleh membalas orang yang menyakiti setara dengan perlakuannya, tapi itu berarti kita tak ada bedanya dengan mereka. Pasrah dan diam saja? Jika Anda ikhlas dan itu jalan supaya mereka menghentikan fitnahnya sih oke, tapi bagaimana jika mereka berpikir diamnya Anda berarti membenarkan dan membuat mereka makin menjadi-jadi? Atau Anda diam tapi tidak membalas tapi hati mendendam setengah mati, itu juga tidak bagus.
Mau tahu cara Rasulullah Saw. menghadapi fitnah? Beliau memotong lidah tukang fitnah! Mungkin Anda heran, bagaimana bisa Rasulullah yang lembut itu memotong lidah orang. Penasaran kan? Makanya simak yuk kisah berikut ini:
Suatu hari kaum muslimin bertempur melawan kaum musyrikin Quraisy dan Suku Hawazin dalam perang Hunain. Pertempuran sengit pun terjadi. Hampir saja kaum muslimin terdesak hingga kemudian Rasulullah Saw. dengan gagah berani memimpin pertempuran. Kaum muslimin kembali bersemangat hingga akhirnya memenangkan pertempuran. Pekikan Allahu Akbar terdengar di mana-mana menggetarkan hati kaum muslimin dan menciutkan nyali musuh.
Selesai pertempuran, musuh segera meninggalkan lokasi pertempuran. Penuh kegembiraan kaum muslimin mengumpulkan harta rampasan perang. Ternyata sangat banyak sekali. Senjata, binatang ternak, perhiasan, dan lain sebagainya. Sesuai aturan syariat, Rasulullah mendapat bagian seperlimanya untuk dibagikan kepada sanak saudara serta siapa pun yang beliau kehendaki. Empat perlima lainnya semua dibagikan kepada setiap orang yang terlibat dalam peperangan.
Di antara yang ikut berperang dan mendapat harta rampasan itu ada seorang mualaf bernama Abbas. Dia seorang penyair. Rupanya, Abbas tidak merasa puas dengan bagiannya dan mendengki kepada Rasulullah. Tanpa malu, Abbas membuat syair-syair menjijikan yang berisi fitnahan pada Rasulullah. Dia mengatakan bahwa beliau berlaku tidak adil mengenai rampasan perang.
Tentu saja sebagian besar kaum muslimin merasa marah mendengar Rasul yang mereka sayangi difitnah seperti itu. Mereka mengadukan Abbas si penyair itu pada Rasulullah. Mengherankan sekali karena beliau malah tersenyum. “Bawa saja orang itu kemari dan potong saja lidahnya!”
Semua orang mengira beliau serius dengan ucapannya. Mereka berpikir itu memang hukuman yang sesuai untuk seorang tukang fitnah Nabi. Tentu saja Abbas ketakutan setengah mati, ia mengira lidahnya akan benar-benar dipotong. Tiba-tiba Ali bin Abi Thalib menyeret Abbas yang gemetaran ke tengah lapangan tempat dikumpulkannya binatang ternak hasil rampasan perang. “Ambillah sebanyak yang kamu mau,” kata Ali tegas. “Apa?” Abbas kaget dan mengira telinganya salah mendengar. “Ya, Rasulullah menyuruh kamu untuk mengambil binatang itu sebanyak yang kamu suka.” “Beginikah cara Rasulullah memotong lidahku? Demi Allah, aku tidak mau mengambilnya sedikit pun,” kata Abbas sambil menahan malu.
Abbas yang muallaf kini makin menyadari kemuliaan akhlak Rasulullah. Ia merasa malu dan bersalah sekali. Sejak itu ia tak pernah lagi menggubah syair-syair yang memfitnah Rasulullah.
Subhanalloh, luar biasa sekali Rasulullah itu. Seorang yang awalnya membenci dan memfitnah bisa berbalik menyayanginya.
Nah, apakah Anda bisa meniru sikap Rasulullah? Jika Anda berpikir, “Ah itu kan Nabi, kita manusia biasa, mana bisa seperti itu.” Baiklah, sekarang kita simak bersama kisah seorang manusia biasa. Orang ini luar biasa karena masih hidup tapi Nabi mengatakan dia calon penghuni surga.
Suatu hari Nabi dan para sahabat tengah berkumpul belajar Al Quran. Tiba-tiba beliau bersabda, “Sebentar lagi akan datang seorang calon penghuni surga.” Tentu saja semua orang penasaran. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki yang sangat sederhana. Mereka menjadi ragu-ragu. Namun setelah Rasulullah mengulangi hingga tiga kali akhirnya mereka yakin orang itulah yang dimaksud.
Karena semua sahabat penasaran, diutuslah seorang sahabat untuk menginap dan menyelidiki amalan lelaki tersebut. Tiga hari berlalu namun sahabat itu tidak menemukan sesuatu yang istimewa. Lelaki itu shalat, shaum, tilawah namun juga makan, istirahat, dan tidur seperti orang lain. Maka ia pun berterus terang dengan misinya.
Si laki-laki menjawab, ”Wahai Sahabat, seperti yang engkau lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.”
Sahabat, difitnah atau dilukai orang lain memang menyakitkan. Untuk memaafkan mungkin butuh perjuangan. Namun, Allah telah menyiapkan ganjaran yang sangat besar untuk rasa sakit dan perjuangan itu, yakni surga-Nya. Semoga kita termasuk orang yang mudah memaafkan. Amin.


3 komentar:

  1. Masya Allah..Mbak.. Terima kasih sudah diingatkan lewat kisah ini. Semoga kita termasuk orang yang mudah memaafkan.. Aamiin

    BalasHapus
  2. ama-sama, Mba Dian... aamiin :)

    BalasHapus
  3. Semoga saya belajar dari kisah ini, menjadi orang yang ikhlas dan mudah memaafkan. Aamiin... Makasih yaa mbak, sudah diingatkan

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Jika Anda Sakit Ringan Pergilah ke Dapur

Ungkapan: jika sakit berlanjut hubungi dokter sudah akrab di telinga kita. Nah, saya bikin versi lain: jika sakit ringan pergilah ke da...