Sabtu, 04 November 2017

LILIS NURAINI, GURU NGAJI PEMILIK BRAND EL-HISAN (SANG BIDADARI)



"Teh, kerudungnya bagus. Beli di mana?"
"Ini bikinan sendiri. Saya juga nerima pesanan."
"Oh begitu? Mau ya saya pesan."
Percakapan seperti di atas sering kali terjadi. Baik itu saat Lilis mengajar atau di tempat lain. Biasanya akan berakhir dengan order. Setelah itu, dilanjut dengan repeat order. Lalu Si Pemesan memberitahukan produknya pada teman-temannya, dan mereka pun memesan lalu menjadi pelanggan setia. Seperti itulah Lilis menjalankan usahanya selama ini. Hampir tanpa promosi, tapi pesanan mengalir terus.


Lilis Nuraini memulai bakal bisnis kerudungnya saat lulus SMU sekitar tahun 2004. Saat itu kakaknya yang kuliah di Bandung membawa kerudung untuk dipasarkan di daerah tempat tinggal mereka, Ciamis. Sang kakak melihat Lilis suka nimbrung ngoprek mesin jahit bibi mereka yang penjahit. Akhirnya menyarankan Lilis untuk membuat sendiri kerudung untuk dijual.
 
Lilis pun menjawab saran kakaknya dengan mulai menjahit kerudung dari bahan kaos dan babat. Ternyata tantangan membuat kerudung untuk pemula itu saat membuat pet alias topinya. Lilis sampai mandi keringat saat pertama bikin. Tapi ia tak menyerah hingga pet berhasil ditaklukkan. Lilis menggunakan nama Aini sebagai merk, diambil dari nama belakangnya, Nuraini.

Kegigihannya berbuah manis. Ia mulai memiliki pelanggan tetap yang mengetahui produknya dari mulut ke mulut. Dari tetangga, teman, serta ibu-ibu pengajian. Pelanggannya semakin banyak saat ia kuliah di PGTK sambil mengajar di TK.

Bisnisnya pernah vakum beberapa tahun saat ia menikah dan pindah ke Bandung. Bukan karena sang suami melarang, tapi karena mesin jahit di tinggal di Ciamis dan belum ada gambaran untuk pemasaran.

Sekitar  tahun 2008 Lilis merasa jenuh setiap hari hanya di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ia ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan. Pilihannya adalah kembali meneruskan usaha kerudungnya, yang kali ini ia beri merk Intisyar. Di kemudian hari merk-nya diganti menjadi Elhisan karena ternyata nama Intisyar sudah ada yang memakai. Elhisan memiliki arti bidadari. Lilis berharap, wanita yang memakai kerudung Elhisan akan menjadi secantik bidadari.



Selain itu ia pun melamar untuk menjadi tenaga pengajar di sebuah lembaga Al Quran terkenal di Bandung. Tak ada ilmu yang sia-sia, itulah yang Lilis rasakan. Ilmu tahsin yang ia pelajari saat nyantri dulu membuatnya mudah diterima sebagai pengajar di lembaga tersebut. Maka sejak saat itu Lilis menggunakan suara merdunya untuk mengajar tahsin beragam usia.

Karirnya sebagai pengajar tahsin cepat sekali melesat. Selain mengajar beberapa kelas di lembaga tersebut, Lilis pun memiliki kelas-kelas serta mengajar privat di berbagai tempat. Ia pun pernah terlibat dalam karantina tahfidz 30 juz. Rupanya suara merdu serta penguasaan ilmu agama yang lumayan banyak, menjadi nilai nambahnya saat mengajar tahsin. 

Setelah menjadi guru di lembga Al Quran, ternyata kerudung bikinan Lilis pun semakin laris. Berawal dari kebutuhan pada kerudung formal untuk mengajar, Lilis membuat untuk dipakainya sendiri. Ia membuat kerudung segiempat yang dipermanis dengan border. Tak disangka, ternyata rekan-rekannya banyak yang tertarik dan memesan. Setelah itu, tanpa harus promosi, Lilis dikenal sebagai pembuat kerudung di kalangan rekan-rekannya.

Lilis berpikir bahwa tidak semua orang mau menggunakan kerudung segiempat. Kebanyakan justru ingin yang simpel. Maka ia pun membuat kerudung dengan model-model lain. Menariknya, saat Lilis mengajar sering kali pesertanya tertarik pada kerudung yang dipakainya dan bertanya. Yang berakhir dengan orderan dan repeat order. Biasanya, para peserta kelasnya akan menginformasikan dengan suka rela kepada teman-temannya. Sehingga pesanan pun mengalir terus dari mereka. Tentu saja, kepuasan pada kualitaslah yang membuat mereka mau merekomendasikan produknya.



Cara pemasaran Elhisan masih dari mulut ke mulut. Lilis belum merasa perlu untuk memasarkan produknya dengan lebih gencar. Alasannya khawatir tidak terpenuhi. Maklumlah, ia mengerjakannya sendiri. Ia belum mau mencari karyawan dengan alasan khawatir kualitas jahitannya akan berbeda.

Sudah dua tahun ini setiap semester Lilis menerima pesanan dari sebuah pesantren di Jawa Barat. Awalnya mereka memesan kerudung untuk seragam santri sebanyak 250 lembar. Lalu pesanan meningkat jadi 500 lembar. Lilis mengerjakan semuanya di sela-sela jadwal mengajarnya, hanya dibantu suami dan adik iparnya.



Selain pesanan dari pesantren yang rutin, ia juga kerap menerima pesanan seragam untuk pernikahan atau pengajian.

Lilis selalu menjaga kualitas jahitan Elhisan. Maka tidak aneh jika pelanggannya semakin banyak meski tak pernah dipromosikan. Selain kualitas jahitan yang bagus, pelanggan juga bisa request model, bahan, serta ukuran dengan harga yang tidak jauh berbeda dari yang biasa. Ini salah satu kelebihan Elhisani yang tidak dimiliki brand lain. Jika Teman-teman ingin mencoba kerudung Elhisan, bisa kontak Lilis atau datang ke alamatnya di Jl. Jatihandap Bandung.

 Saat ini Lilis mulai berpikir untuk lebih serius menjalankana bisnisnya. Tujuannya agar hasil bisnis ini bisa memberikan manfaat bagi para tetangga dan kerabatnya. Ia akan mulai dengan membuat stok kerudung yang agak banyak. Untuk itu tentu saja ia memerlukan karyawan serta marketer. Kita doakan semoga cita-cita baik Lilis sang guru ngaji dengan bisnisnya bisa tercapai. Aamiin…




41 komentar:

  1. Satu lagi tulisan yang menunujkkan ketangguhan seorang wanita. Very inspiring.
    Nama brandnya bagus ya, mbak?

    BalasHapus
  2. Ibu yang hebat...dunia dan akhirat

    BalasHapus
  3. semoga makin sukses bisnisnya bu guru..

    BalasHapus
  4. Tak ada ilmu yang sia-sia memang ya, selama kita mau memanfaatkannya. Hebat, wanita yang menginapirasi. Semoga sehat dan sukses untuk mba Lilis sekeluarga

    BalasHapus
  5. Hebat bu guru. Semoga tambah sukses

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, aamiin... Terima kasih, Mba Lies :)

      Hapus
  6. Meskipun saya bukan muslim, tp kalau melihat yg berkerudung, saya melihat saja sudah senang. Apalagi jika cocok dengan bentuk wajahnya, ketika melihat itu rasanya kagum dan bangga begitu. Smg sukses dg bisnisnya mbk.

    BalasHapus
  7. Meskipun saya bukan muslim, tp kalau melihat yg berkerudung, saya melihat saja sudah senang. Apalagi jika cocok dengan bentuk wajahnya, ketika melihat itu rasanya kagum dan bangga begitu. Smg sukses dg bisnisnya mbk.

    BalasHapus
  8. Masya Allah! Sangat menginspirasi. Begitulah jika orang seimbang antara urusan dunia dan akhirat. pasti lebih berkah

    BalasHapus
  9. Masya Allah.. Kereennn.. Menginspirasi

    BalasHapus
  10. Jadi guru sekaligus pebisnis adalah sesuatu yang keren. Jadi semangat juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah kalau membuat tambah semangat :)

      Hapus
  11. Kuat biasa jahit annual sepertinya rapi ya
    Rejeki memang datang dari pintu mana saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mba Madu rapi sekali. Saya juga suka pakai produknya soalnya :)

      Hapus
  12. Barakallah semoga selalu sukses. Menginspirasi

    BalasHapus
  13. Barakallah semoga selalu sukses. Menginspirasi

    BalasHapus
  14. Sangat menginspirasi. Sukses selalu

    BalasHapus
  15. MasyaAllah.. Dunia akhirat didapat.. Barakallahu fiik.. 😍😍

    BalasHapus
  16. Salut deh sama emak yg bisa punya brand sendiri.

    BalasHapus
  17. Dari dulu pengen punya brand sendiri nkayak gini. Realisasinya entahlah, heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat, Mba Damar...insya Allah bisa :)

      Hapus
  18. The power of mouth to mouth ya. Kereeen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali, kepuasan yang membuat mereka suka rela berbagi info :)

      Hapus
  19. Aamin, smoga sukses untuk ustazah

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir dan berkomentar, mohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih :)

Jika Anda Sakit Ringan Pergilah ke Dapur

Ungkapan: jika sakit berlanjut hubungi dokter sudah akrab di telinga kita. Nah, saya bikin versi lain: jika sakit ringan pergilah ke da...